BMKG Ungkap Dampak El Nino 2026, Risiko Karhutla Meluas hingga Sumatera dan Kalimantan

Photo Author
Administrator, Sumbardaily.com
- Jumat, 31 Juli 2026 | 11:02 WIB
Ilustrasi Kebakaran Hutan dan Lahan (Foto: Pexels)
Ilustrasi Kebakaran Hutan dan Lahan (Foto: Pexels)



Situasi tersebut menjadi perhatian utama pemerintah dalam rapat yang turut dihadiri sejumlah menteri Kabinet Merah Putih. Pertemuan itu membahas strategi menghadapi dampak musim kemarau yang dipengaruhi El Nino, mulai dari ancaman kekeringan, kebakaran hutan dan lahan, hingga berbagai bencana hidrometeorologi lainnya.





Dalam arahannya, Presiden Prabowo Subianto meminta seluruh jajaran pemerintah mengambil langkah konkret untuk mengurangi dampak musim kemarau yang berlangsung bersamaan dengan fenomena El Nino. Instruksi tersebut mencakup upaya menjaga ketersediaan air sekaligus memperkuat pencegahan kebakaran hutan dan lahan.





Menindaklanjuti arahan tersebut, BMKG menetapkan dua fokus utama dalam menghadapi musim kemarau tahun ini.





"Antisipasi kemarau yang bersamaan dengan El Nino di tahun ini ada dua fokus utama. Pertama, terkait dengan ketersediaan air melalui pengisian waduk-waduk dengan metode modifikasi cuaca dan lain sebagainya. Kedua, untuk mengantisipasi kebakaran hutan dan lahan (karhutla) melalui pembasahan pada lahan-lahan yang rentan atau sudah terbakar," ujar Faisal.





BMKG memperkirakan potensi kebakaran hutan dan lahan mulai meningkat sejak Juli dan akan mencapai puncaknya pada Agustus hingga September 2026. Risiko tersebut diprediksi semakin meluas, terutama di wilayah Sumatera dan Kalimantan.





Lima provinsi ditetapkan sebagai wilayah prioritas untuk penguatan pemantauan dan pengawasan, yakni Riau, Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, Sumatera Selatan, dan Jambi.





Faisal menegaskan, langkah mitigasi yang dilakukan pemerintah tidak hanya diarahkan untuk menghadapi kekeringan maupun kebakaran hutan dan lahan. Upaya tersebut juga dipersiapkan sebagai bagian dari antisipasi menghadapi potensi bencana hidrometeorologi basah pada penghujung tahun.





"Jadi, tidak hanya terkait dengan kekeringan serta kebakaran hutan dan lahan, tetapi juga bencana-bencana hidrometeorologi basah. Ini sekaligus sebagai persiapan kita untuk menghadapi akhir tahun nanti ketika hujan kembali datang, di mana akan ada ancaman bencana hidrometeorologi basah seperti siklon tropis dan sebagainya."

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizinĀ redaksi.
Halaman:

Editor: Administrator

Tags

Rekomendasi

Terkini

X