Ampiang Parak Pessel Masuk Desa Tangguh Bencana Binaan UNESCO, Komitmen Hadapi Ancaman Megathrust

Photo Author
Administrator, Sumbardaily.com
- Jumat, 17 Juli 2026 | 10:05 WIB
Dalam webinar nasional yang digelar pada Kamis (16/7/2026), Nagari Ampiang Parak, Kabupaten Pesisir Selatan, kembali mendapat perhatian setelah masuk dalam jajaran Desa Tangguh Bencana binaan UNESCO di Indonesia. (Foto: Pemkab Pessel)
Dalam webinar nasional yang digelar pada Kamis (16/7/2026), Nagari Ampiang Parak, Kabupaten Pesisir Selatan, kembali mendapat perhatian setelah masuk dalam jajaran Desa Tangguh Bencana binaan UNESCO di Indonesia. (Foto: Pemkab Pessel)


Sumbardaily.com - Peringatan 20 tahun bencana tsunami Pangandaran 2006 menjadi momentum untuk memperkuat kesiapsiagaan masyarakat terhadap ancaman gempa bumi dan tsunami.





Dalam webinar nasional yang digelar pada Kamis (16/7/2026), Nagari Ampiang Parak, Kabupaten Pesisir Selatan, kembali mendapat perhatian setelah masuk dalam jajaran Desa Tangguh Bencana binaan UNESCO di Indonesia.





Kegiatan di Kabupaten Pesisir Selatan dipusatkan di Pusat Edukasi LPPL Ampiang Parak. Webinar tersebut diikuti unsur pemerintah daerah, pemerintah nagari, hingga komunitas siaga bencana sebagai bagian dari upaya memperkuat budaya sadar bencana di wilayah pesisir.





Hadir dalam kegiatan tersebut Kepala Pelaksana BPBD Pesisir Selatan Armen, AP., MM bersama jajaran, Kepala Dinas Kominfo Pesisir Selatan Wendi beserta tim, Camat Sutera, Wali Nagari Ampiang Parak bersama perangkat nagari, serta Ketua Laskar Pemuda Peduli Lingkungan (LPPL) Ampiang Parak Haridman bersama anggota kelompok siaga bencana.





Dalam pemaparan webinar dijelaskan terdapat tujuh desa dan komunitas di Indonesia yang menjadi pionir Desa Tangguh Bencana binaan UNESCO. Dari jumlah tersebut, lima berada di Pulau Sumatera, sedangkan dua lainnya berada di Pulau Jawa.





Tujuh desa dan komunitas tersebut meliputi Tua Pejat di Kabupaten Kepulauan Mentawai, Sumatera Barat, Nagari Ampiang Parak di Kabupaten Pesisir Selatan, Sumatera Barat, Desa Citepus dan Desa Cikakak di Banten, serta Desa Teluk Sepang, Desa Penurunan, dan Desa Lempuing di Provinsi Bengkulu.





Perwakilan UNESCO, Engin Koncagul, menjelaskan ketujuh desa dan komunitas tersebut dipilih karena dinilai memiliki kemampuan merespons ancaman bencana secara cepat sekaligus menunjukkan komitmen yang kuat dalam membangun kesiapsiagaan masyarakat menghadapi potensi gempa bumi dan tsunami.


Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizinĀ redaksi.
Halaman:

Editor: Administrator

Tags

Rekomendasi

Terkini

Terpopuler

X