Industri Tidak Kompetitif, Kinerja Menurun
Selain infrastruktur, sektor industri juga menunjukkan gejala penurunan. Ia menyoroti kinerja PT Semen Padang sebagai industri strategis daerah yang dinilai makin sulit bersaing dan minim inovasi hilir. Menurutnya, industri turunan yang semestinya berkembang tidak kunjung terwujud, sementara muncul gagasan menjadikan pabrik tersebut sebagai heritage.
“Industri turunan semen tak pernah muncul. Yang muncul malah usulan menjadikan Semen Padang sebagai objek warisan. Celananya sobek, tapi yang dijahit justru pisaknya,” sebutnya.
Elfindri menegaskan kelesuan industri ini harus menjadi perhatian serius pemerintah daerah. Tanpa sektor industri yang kuat, Sumbar hanya mengandalkan sektor primer yang volatil dan tidak memberikan nilai tambah besar bagi perekonomian.
Ekonomi Tak Tercatat Membesar, Menggerus Produktivitas
Fenomena lain yang menjadi sorotan adalah berkembangnya aktivitas ekonomi tak tercatat (unofficial economy) seperti peredaran emas ilegal, judi online, narkoba, serta tingginya konsumsi rokok. Menurut Elfindri, aktivitas semacam ini menyedot sumber daya masyarakat yang seharusnya dialokasikan untuk kegiatan produktif.
“Potensi dana masyarakat menguap ke aktivitas yang tidak memberi nilai tambah. Ini kontraksi yang tidak tercermin di data BPS, tetapi dampaknya sangat terasa,” ujarnya.
Ia menekankan bahwa masalah ini bukan hanya terkait moral atau hukum, tetapi secara langsung memengaruhi kemampuan masyarakat berinvestasi dalam pendidikan, usaha, dan peningkatan kualitas hidup.
Pertanian Stagnan, Peluang Besar Tak Terserap
Sektor pertanian yang selama ini menyumbang 21 persen Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) Sumbar juga disebut stagnan. Padahal, terdapat potensi besar di komoditas kopi, kelapa, dan kelapa sawit. Menurut Elfindri, tawaran Menteri Pertanian untuk membuka 20.000 hektare kebun kopi dan program peremajaan kelapa belum mendapat respons memadai dari daerah.
“Tawaran peluang itu seperti hilang begitu saja, tidak ada tindak lanjut nyata,” katanya.