- Tantangan Zaman, Ketika Dunia Berubah Lebih Cepat dari Cara Kita Berpikir
Ace Hasan memetakan lanskap dunia saat ini bukan lagi sekadar berubah, melainkan bergeser secara radikal. Kehadiran teknologi digital dan derasnya arus informasi telah mengubah struktur relasi sosial, kekuasaan, ekonomi, hingga budaya kita.
Namun, ada ironi besar di balik kemudahan era digital ini. Ace Hasan menyoroti tantangan krusial bangsa, di antaranya:
- Fragmentasi Informasi dan Polarisasi Sosial: Kita kebanjiran data, namun kelaparan makna. Informasi yang terpecah-pecah memicu polarisasi politik yang tajam.
- Menguatnya Politik Identitas Eksklusif: Menggunakan identitas sebagai senjata pembelah, bukan perekat.
- Tumpulnya Analisis Multi Dimensional:
Masyarakat cenderung melihat masalah bangsa dari satu sudut pandang yang sempit. Pertanyaan retoris yang dilemparkannya pun menohok ego kita:
Apakah kita hanya akan menjadi pengguna perubahan, atau kita mampu menjadi penentu arah perubahan?.
Di sini letak otentisitas analisis Ace Hasan. Menjadi pemimpin masa depan tidak cukup hanya tahu apa yang terjadi, tetapi harus paham mengapa itu terjadi.
- Membedah Arsitektur Berpikir: Lompatan ke Critical Strategic Thinking
Menghadapi disrupsi tersebut, Lemhannas menawarkan resolusi intelektual yang konkret melalui transformasi dari sekadar berpikir kritis biasa critical thinking menjadi Critical Strategic Thinking (Berpikir Kritis-Strategis).
Di era luapan informasi hari ini, berpikir kritis saja ternyata sudah tidak cukup. Kita kerap menemui orang yang sangat kritis di media sosial mampu mempertanyakan segala hal dan mendeteksi kejanggalan namun terjebak dalam sinisme tanpa akhir atau gagal melihat gambaran besar.
Jika critical thinking adalah kemampuan membedah dan mempertanyakan validitas sebuah informasi hari ini, maka critical strategic thinking adalah kemampuan memproyeksikan implikasi dari informasi tersebut terhadap masa depan bangsa.