Sayangnya, potensi besar tersebut belum sepenuhnya dikelola sebagai industri pariwisata yang profesional. Pengelolaan pendakian masih berjalan secara alamiah. Jalur pendakian di sejumlah gunung belum memiliki standar keselamatan yang memadai. Penunjuk arah masih terbatas. Sistem informasi belum terintegrasi. Pelatihan bagi pemandu dan porter juga belum dilakukan secara berkelanjutan.
Padahal, kenyamanan dan keselamatan merupakan syarat utama agar wisata pendakian mampu bersaing di tingkat nasional maupun internasional.
Belajar dari Gunung Talang
Gunung Talang dapat dijadikan contoh bagaimana sebuah gunung mampu menggerakkan ekonomi masyarakat.
Gunung setinggi 2.597 meter di atas permukaan laut ini kini menjelma menjadi destinasi pendakian paling ramai di Sumbar. Setelah aktivitas erupsi Gunung Marapi membatasi dan menghentikan pendakian, Gunung Talang justru menjadi pilihan utama para pecinta alam.
Pada akhir pekan biasa, jumlah pendaki berkisar antara 500 hingga 700 orang. Saat libur panjang, jumlahnya meningkat tajam. Bahkan pada momentum peringatan Hari Kemerdekaan, pendaki dapat mencapai sekitar 2.300 hingga 2.500 orang dalam beberapa hari.
Besarnya jumlah kunjungan tersebut berarti besar pula perputaran uang di kawasan sekitar gunung. Pendapatan mengalir dari biaya registrasi yang menjadi pemasukan nagari, jasa ojek menuju pintu pendakian, warung makan, penginapan, toko logistik, penyewaan perlengkapan, pemandu, porter, hingga pelaku UMKM.
Jika rata-rata seorang pendaki membelanjakan sekitar Rp350.000 selama satu kali pendakian, maka ketika terdapat 2.500 pendaki, uang yang beredar mencapai sekitar Rp875 juta hanya dalam satu momentum.