opini

Lautaro Martínez dan Dua Asis Messi

Kamis, 16 Juli 2026 | 20:09 WIB
Sundulan Lautaro Martínez yang berbuah gol usai menerima asis dari Lionel Messi dan membuat Argentina berbalik unggul 2-1 atas Inggris serta melaju ke Final Piala Dunia 2026 menantang Spanyol. (Foto: FIFA)




Gol tersebut menjadi asis kedua Messi pada pertandingan ini sekaligus memastikan kemenangan Argentina 2-1. Lautaro sekali lagi membuktikan bahwa seorang pemain pengganti dapat menjadi pembeda ketika digunakan pada waktu yang tepat.





Mentalitas Juara





Inilah kemenangan kedua secara beruntun yang diraih Argentina setelah tertinggal lebih dahulu.
Melawan Mesir di babak sebelumnya mereka bangkit.





Melawan Inggris mereka kembali melakukan hal yang sama. Fenomena itu bukan lagi kebetulan.
Dalam psikologi olahraga, tim yang mampu bangkit dari ketertinggalan menunjukkan tingkat kepercayaan diri, kohesi tim, dan ketahanan mental (resilience) yang sangat tinggi. Statistik di berbagai turnamen besar FIFA juga menunjukkan bahwa tim yang mampu membalikkan keadaan biasanya merupakan kandidat kuat juara karena memiliki kemampuan menjaga kualitas permainan ketika berada di bawah tekanan.





Argentina memperlihatkan seluruh karakter tersebut. Mereka tidak panik ketika tertinggal, tetap sabar menjalankan rencana permainan, dan percaya bahwa peluang akan datang.





Kutukan Juara Bertahan





Ada satu cerita menarik yang kembali mengiringi perjalanan Argentina. Sejak Brasil mempertahankan gelar Piala Dunia pada 1958 dan 1962, belum ada lagi negara yang mampu menjadi juara dunia dua edisi berturut-turut. Italia (1934-1938) dan Brasil menjadi dua negara yang pernah mempertahankan gelar, sementara juara-juara berikutnya selalu gagal mengulang prestasi empat tahun kemudian.





Karena itu, banyak pengamat menyebut adanya "kutukan juara bertahan". Tentu saja istilah itu lebih merupakan mitos dibanding fakta ilmiah. Pergantian generasi pemain, perubahan taktik, hingga semakin meratanya kekuatan sepak bola dunia jauh lebih masuk akal sebagai penyebab sulitnya mempertahankan gelar.





Kini Argentina berada di ambang sejarah. Di partai final, mereka akan menghadapi Spanyol yang melaju meyakinkan setelah menyingkirkan Prancis. Laga itu dipastikan menjadi pertarungan dua filosofi sepak bola: efektivitas dan mentalitas Argentina melawan dominasi penguasaan bola khas Spanyol.


Halaman:

Tags

Terkini

Gunung dan Wisata Masa Depan

Jumat, 21 Agustus 2026 | 16:10 WIB

Jembatan Cinta-nya Rasuna Said

Senin, 3 Agustus 2026 | 20:18 WIB

Berani Jujur Hebat

Selasa, 28 Juli 2026 | 14:59 WIB

Nestapa Perundungan di Sekolah

Selasa, 28 Juli 2026 | 10:30 WIB

Lautaro Martínez dan Dua Asis Messi

Kamis, 16 Juli 2026 | 20:09 WIB

Meluruskan Kesalahan Fatal Jam Gadang

Sabtu, 6 Juni 2026 | 18:14 WIB