Di sinilah kecerdasan Lionel Messi berbicara.
Alih-alih memaksakan diri masuk ke tengah, Messi justru bergerak melebar. Pergerakan tersebut memancing dua hingga tiga pemain Inggris keluar dari posisi idealnya. Akibatnya, ruang di area half-space mulai terbuka.
Alexis Mac Allister dan Enzo Fernández membaca situasi itu dengan sangat baik. Keduanya mulai lebih leluasa mengalirkan bola dari lini kedua, membuat pertahanan Inggris yang semula rapat perlahan kehilangan bentuk.
Gol penyama kedudukan lahir dari proses tersebut. Messi menjadi motor serangan sebelum bola akhirnya diselesaikan Enzo Fernández melalui tendangan keras yang tak mampu dihentikan kiper Inggris dimenit ke 85.
Skor berubah menjadi 1-1. Momentum pertandingan pun berganti. Mental para pemain Argentina meningkat tajam, sementara Inggris mulai kehilangan kepercayaan diri.
Lautaro Martínez, Kartu Truf Scaloni
Salah satu keputusan paling menentukan datang dari pelatih Lionel Scaloni. Seperti pada pertandingan sebelumnya, Lautaro Martínez kembali tidak dimainkan sejak menit awal.
Scaloni tampaknya sengaja menyimpan striker Inter Milan itu sebagai senjata rahasia ketika tenaga para bek lawan mulai menurun. Keputusan itu terbukti sangat tepat.
Masuk pada babak akhir, Lautaro langsung memberi dimensi baru bagi serangan Argentina.
Kecepatannya menyerang ruang kosong membuat garis pertahanan Inggris tidak lagi nyaman. Rodrigo De Paul yang masuk dari bangku cadangan ikut menambah energi di lini tengah. Kombinasi De Paul, Mac Allister, Enzo Fernández, dan Messi membuat sirkulasi bola Argentina semakin cepat.
Puncaknya terjadi ketika Messi kembali menunjukkan kelasnya. Berawal dari serangan di sisi kanan, Messi mengirimkan umpan silang terukur ke jantung pertahanan Inggris. Lautaro yang berhasil melepaskan diri dari kawalan bek lawan menyambut bola dengan sundulan keras yang menghujam gawang Inggris di menit 90 + 2.