Pada artikel Monteiro (artikel kedua) di tahun 2019 secara langsung menyebutkan bahwa pangan ultra proses adalah bukan pangan karena secara intrinsik tidak sehat, artinya jika dimakan maka akan berdampak negatif bagi kesehatan. Kalimat ini bukan sebuah definisi epistemologis sehingga memunculkan banyak pertanyaan yang sulit untuk dijawab. Banyak yang beranggapan bahwa konsumsi UPF dalam jumlah banyak berkorelasi terhadap risiko penyakit degeneratif seperti obesitas, diabetes tipe 2, penyakit jantung, hipertensi, dan lain sebagainya.
Padahal, dari sudut pandang epistemologis, klaim semacam ini perlu diuji mendalam tentang bagaimana sebenarnya kita mengetahui bahwa UPF menyebabkan obesitas, diabetes tipe 2, atau penyakit degeneratif lainnya. Apakah datanya berasal dari uji klinis, preklinis, studi observasional, mekanisme biologis, atau hanya asumsi berdasarkan persepsi tentang “kealamian”? Agar kaitan antara UPF dengan prevalensi munculnya penyakit degeneratif tidak asal menyimpulkan.
Sampai saat ini, hubungan langsung antara konsumsi UPF dan penyakit degeneratif masih menjadi perdebatan ilmiah. Banyak studi yang menunjukkan adanya korelasi, tetapi korelasi tidak langsung menunjukkan hubungan sebab-akibat (kausalitas). Faktor lain seperti gaya hidup, pola makan, aktivitas fisik, budaya konsumsi, dan sosial ekonomi justru memainkan peran yang lebih besar pengaruhnya.
Dalam khazanah ontologi, pertanyaan fundamentalnya adalah “apakah hakikat makanan ditentukan oleh asalnya (alami vs sintetis), oleh prosesnya (minimal vs ultra), atau dampak fisiologisnya terhadap tubuh manusia?” Sedangkan dalam bingkai epistemologi, kita ditantang untuk menentukan metode pengetahuan apa yang valid dalam menilai dampak suatu makanan terhadap kesehatan.
Pada akhirnya, teknologi pangan justru memiliki peran esensial dalam kehidupan manusia. Teknologi memungkinkan pangan aman, stabil, terdistribusi luas, dan memenuhi kebutuhan gizi modern. Maka, memahami UPF tidak cukup hanya dari label “alami atau sintetis”, tetapi harus melalui pendekatan ilmiah yang jernih, kritis, dan bebas dari “romantisme” terhadap makanan alamiah. Pemrosesan bukan lawan dari kesehatan; ia adalah alat, dan yang penting adalah konteks, komposisi, dan konsumsi, bukan label “ultra” semata. (*)