Keberanian yang diajarkan silat bukan untuk menindas, melainkan untuk berdiri membela yang benar dan menolong yang lemah.
Nilai-nilai ini menjadi modal penting bagi generasi yang ingin berkiprah di dunia modern tanpa kehilangan nurani.
Silat juga erat dengan tradisi merantau orang Minang. Latihan silat menyiapkan mental agar anak muda berani melangkah ke perantauan, menghadapi tantangan, menjaga martabat, dan tetap berpegang pada budaya asal.
Seperti kata orang tua bijak: “Kok buliah baraja silat, indak hanyo pandai manampuah musuh, tapi pandai manampuah diri.” artinya silat mengajarkan keterampilan sekaligus kendali diri.
Pentingnya silat sebagai warisan membuat Pemerintah Provinsi Sumatera Barat (Pemprov Sumbar) bergerak.
Salah satu langkah nyata adalah memasukkan silat ke muatan lokal sekolah menengah. Ini bukan sekadar mengenalkan gerakan, tetapi menanamkan sikap: kerja sama, sportivitas, kepedulian, dan etika hidup.
Dengan pendekatan pendidikan formal, silat mendapat ruang yang lebih luas untuk membentuk karakter agar anak-anak tumbuh menjadi sosok tangguh secara mental, peduli pada sesama dan berakhlak mulia.
Tujuannya bukan hanya melahirkan atlet, tetapi insan yang siap bersaing secara global tanpa melupakan akar budaya.