Sepak bola pada akhirnya bukan hanya soal penguasaan bola atau banyaknya peluang. Di level tertinggi, pertandingan lebih sering ditentukan oleh keberanian mengubah strategi, kecerdasan membaca permainan, dan mentalitas juara.
Itulah yang kembali diperlihatkan Argentina saat menyingkirkan Inggris dengan kemenangan dramatis 2-1.
Tandukan Lautaro Martínez pada menit-menit akhir memupus harapan Inggris menciptakan sejarah. Sebaliknya, Argentina kembali menunjukkan identitasnya sebagai tim yang tidak pernah menyerah. Skenario ini seolah mengulang kisah saat Lionel Messi dan kawan-kawan bangkit dari ketertinggalan untuk menyingkirkan Mesir di babak sebelumnya.
Selama hampir 70 menit Argentina dipaksa bermain di bawah tekanan. Inggris tampil disiplin, agresif, dan mampu memutus aliran bola menuju lini depan Albiceleste. Keunggulan Inggris pada menit ke-55 membuat pertandingan tampak berada di bawah kendali mereka.
Namun, justru setelah tertinggal itulah karakter juara Argentina muncul. Tempo permainan meningkat drastis. Argentina mulai bermain lebih berani dengan memanfaatkan kedua sisi lapangan. Intensitas serangan terus bertambah, sementara Inggris yang sebelumnya nyaman menguasai pertandingan dipaksa bertahan semakin dalam.
Gelombang serangan demi serangan terus berdatangan. Hanya penampilan gemilang penjaga gawang Inggris yang membuat skor tidak langsung berubah. Sedikitnya tiga penyelamatan penting berhasil menggagalkan peluang emas Argentina sebelum akhirnya pertahanan Inggris benar-benar runtuh.
Messi Membaca Celah
Inggris menerapkan strategi bertahan total atau low block, bahkan pada beberapa fase permainan nyaris menjadi "parkir bus". Hampir seluruh pemain bertahan berada di sekitar kotak penalti sehingga ruang bagi Julián Álvarez maupun penyerang lainnya nyaris tertutup.