Jika dahulu Messi mendominasi pertandingan dengan aksi individu yang nyaris tanpa henti, kini pengaruhnya muncul melalui keputusan-keputusan penting pada momen krusial. Tanggung jawabnya memang tidak sebesar sebelumnya, tetapi setiap sentuhan yang ia lakukan membawa makna yang jauh lebih besar.
Perjalanan Argentina sepanjang Piala Dunia 2026 juga memperlihatkan bagaimana emosi sang kapten menyatu dengan perjuangan seluruh tim.
Air mata yang mengalir setelah pertandingan melawan Mesir pada babak 16 besar menjadi salah satu gambaran besarnya tekanan yang mereka rasakan.
Demikian pula luapan emosi seusai kemenangan dramatis atas Inggris, yang menunjukkan betapa besar arti setiap pertandingan bagi Messi dan rekan-rekannya.
Ketika menghadapi Spanyol di partai final, penderitaan itu kembali terlihat. Argentina harus berjuang selama 120 menit tanpa pernah berhenti mengejar bola. Kelelahan menjadi tantangan yang harus dihadapi seluruh pemain hingga peluit panjang dibunyikan.
Sebelum laga puncak berlangsung, Messi bahkan telah mengakui bahwa kondisi fisik tim mulai terkuras setelah menjalani rangkaian pertandingan yang sangat berat.
"Kenyataannya, saya tiba di sini dalam kondisi lelah seperti semua rekan setim saya — memberikan segalanya di setiap pertandingan — dan hal itu sangat menguras tenaga seluruh tim. Semakin sulit untuk memulihkan kondisi setiap saat," katanya.