Selama berada di atas lapangan, statistiknya menunjukkan ia hanya mampu melepaskan dua tembakan tepat sasaran. Selain itu, Haaland membukukan tujuh operan sukses dari sembilan percobaan operan serta menempuh jarak lari sejauh 8,9 kilometer.
Jika dibandingkan dengan penampilannya saat Norwegia menyingkirkan Brasil pada babak 16 besar, terdapat perbedaan yang cukup mencolok. Ketika menghadapi Brasil, Haaland mampu mencatatkan empat tembakan, menyelesaikan seluruh 11 operannya dengan sukses, serta menempuh jarak 10,1 kilometer.
Secara statistik, perbedaan kedua pertandingan tersebut memang tidak terlihat terlalu jauh. Namun, efektivitas permainan Haaland mengalami penurunan yang signifikan.
Kesempatan tambahan yang diperolehnya saat menghadapi Brasil terbukti menjadi faktor penting yang membantu Norwegia mengalahkan salah satu tim terbesar dunia. Sebaliknya, ketika menghadapi Inggris, peluang yang didapat Haaland berhasil ditekan sehingga pengaruhnya terhadap permainan ikut berkurang.
Pada laga perempat final tersebut, Haaland hanya mampu melepaskan dua sundulan. Salah satunya berhasil diamankan Jordan Pickford, sementara sundulan lainnya melenceng dari sasaran sehingga gagal mengubah papan skor.
Selain minim peluang, ruang gerak Haaland juga lebih terbatas dibanding pertandingan sebelumnya. Meski masih berusaha bergerak di berbagai area lapangan untuk membuka ruang bagi rekan-rekannya, tekanan yang diberikan pertahanan Inggris membuat dirinya kesulitan menemukan posisi ideal.
Situasi itu diperparah dengan perubahan pendekatan permainan Norwegia. Tim tersebut tidak lagi terlalu mengandalkan serangan balik seperti yang dilakukan sepanjang sebagian besar babak pertama, sehingga suplai bola kepada Haaland juga ikut berkurang.
Kombinasi disiplin organisasi pertahanan Inggris, pengawalan ketat dari Marc Guehi dan John Stones, serta terbatasnya ruang gerak membuat Haaland gagal menunjukkan performa yang biasanya mampu menentukan hasil pertandingan.