Karena itu, lini belakang Inggris dituntut menjaga konsentrasi selama pertandingan berlangsung. Mereka harus mampu membaca setiap pergerakan Haaland sekaligus menutup ruang sempit yang biasa dimanfaatkan sang striker untuk menciptakan peluang.
Strategi tersebut berjalan efektif. Inggris mampu membatasi ruang gerak Haaland sehingga penyerang Norwegia itu tidak memperoleh banyak kesempatan untuk memberikan ancaman serius ke gawang Jordan Pickford.
Di balik keberhasilan tersebut, perhatian tertuju kepada duet bek tengah Inggris, Marc Guehi dan John Stones. Keduanya mampu menjalankan tugas dengan disiplin sepanjang pertandingan.
Bagi Stones, duel melawan Haaland juga memiliki sisi menarik. Sebagai rekan setim di Manchester City, ia memahami karakter permainan penyerang Norwegia tersebut. Kedekatan itu menjadi keuntungan tersendiri ketika harus mengantisipasi setiap pergerakan Haaland selama pertandingan berlangsung.
Kolaborasi antara Stones, Guehi, dan pemain-pemain bertahan Inggris lainnya membuat mesin gol Norwegia itu tampil jauh di bawah performa terbaiknya. Situasi tersebut sangat berbeda dibanding empat pertandingan sebelumnya ketika Haaland selalu menjadi ancaman utama bagi lawan-lawannya.
Sebelum menghadapi Inggris, Haaland tampil luar biasa dengan mencetak tujuh gol saat melawan Irak, Senegal, Pantai Gading, dan Brasil. Produktivitas itulah yang membawa Norwegia mencatat perjalanan bersejarah hingga mencapai babak perempat final.
Namun, pertandingan di Miami menjadi cerita yang berbeda. Haaland harus meninggalkan lapangan lebih awal pada akhir babak pertama perpanjangan waktu setelah menguras hampir seluruh energinya sepanjang laga.