"Untuk saudara-saudara yang ada di sekitar Kota Padang maupun yang berada di rantau, mampirlah ke sini untuk membeli Lompong Sagu," ajaknya.
Keberhasilan usaha Lompong Sagu dan Palai Bada bertahan selama lebih dari dua dekade menjadi gambaran bahwa makanan tradisional tidak mudah tergeser oleh tren kuliner yang terus berubah. Selama kualitas produk dijaga dan cita rasa khas tetap dipertahankan, kuliner warisan daerah masih mampu menarik minat masyarakat dari berbagai generasi.
Kisah Titin Agustina juga menunjukkan bahwa menjaga warisan kuliner bukan hanya soal mempertahankan sebuah usaha, tetapi juga menjaga identitas budaya yang diwariskan dari generasi ke generasi.
Di tengah maraknya kuliner modern, Lompong Sagu dan Palai Bada tetap menjadi bukti bahwa makanan tradisional Minangkabau masih memiliki tempat istimewa di hati masyarakat. (*)