Benang Merah Budaya Minangkabau dan Kampar: Dari Aliran Sungai hingga Matrilineal

Photo Author
Administrator, Sumbardaily.com
- Rabu, 29 April 2026 | 10:00 WIB
Seminar Nasional yang digelar Program Studi Pendidikan Sejarah Universitas Negeri Padang (UNP) di Aula Fakultas Ilmu Sosial, Sabtu (25/4/2026). (Foto: UNP)
Seminar Nasional yang digelar Program Studi Pendidikan Sejarah Universitas Negeri Padang (UNP) di Aula Fakultas Ilmu Sosial, Sabtu (25/4/2026). (Foto: UNP)



Ia menilai, kondisi tersebut menunjukkan bahwa nilai-nilai adat masih memiliki posisi penting dalam sistem sosial masyarakat, meskipun struktur pemerintahan modern telah diterapkan.





Sementara itu, Dr. Hendra Naldi, S.S., M.Hum., mengungkapkan bahwa secara historis Kampar merupakan bagian dari kawasan Pucuak Rantau Minangkabau.





Ia menjelaskan, keterhubungan tersebut pada masa lalu didukung oleh jalur transportasi sungai yang menjadi penghubung utama antarwilayah.





Menurutnya, perubahan besar mulai terjadi setelah pembangunan PLTA Koto Panjang yang mengubah lanskap wilayah, termasuk pola pemukiman masyarakat di Desa Pulau Gadang.





“Perubahan keruangan akibat pembangunan tidak menghilangkan identitas kultural masyarakat. Memori kolektif mereka sebagai bagian dari Minangkabau tetap bertahan,” jelasnya.





Hal senada disampaikan Kepala Desa Pulau Gadang, Syofian, SH., MH., N.LP., Dt. Majosati. Ia menegaskan bahwa Kampar dan Minangkabau memiliki kesamaan mendasar yang tidak bisa dipisahkan.





“Kampar dan Minangkabau adalah satu kesatuan nilai adat yang tidak terpisahkan,” kata Syofian.





Ia menjelaskan, kesamaan tersebut terlihat dari sistem kekerabatan matrilineal, kesamaan adat dan tradisi, serta peran ninik mamak dalam kehidupan masyarakat.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Halaman:

Editor: Administrator

Tags

Terkini

X