berita

Kisah Unik di Balik Nama Ombak Macaronis Mentawai, Berawal dari Bekal Makaroni

Kamis, 15 Oktober 2026 | 19:14 WIB
Kepulauan Mentawai (Foto: Kemenko PMK)


Sumbardaily.com - Kepopuleran ombak Macaronis di Kepulauan Mentawai, Sumatera Barat, menjadi peluang besar bagi pengembangan pariwisata bahari Indonesia. Namun, di balik daya tariknya bagi peselancar internasional, kawasan ini membutuhkan pengelolaan yang memperhatikan kelestarian ekosistem laut, keselamatan wisatawan, dan kesejahteraan masyarakat setempat.





Untuk mendukung pengembangan tersebut, Universitas Bung Hatta menginisiasi riset kolaboratif bersama Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), IPB University, serta dunia usaha. Penelitian ini berfokus pada kajian daya dukung lingkungan dan daya tampung kawasan wisata selancar di Mentawai sebagai landasan pengelolaan pariwisata yang bertanggung jawab dan berkelanjutan.





Kolaborasi tersebut melibatkan dosen Program Studi S2 Pengelolaan Sumberdaya Perairan, Pesisir, dan Kelautan (SP2K), Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan Universitas Bung Hatta, Dr. Harfiandri Damanhuri, S.Pi., M.Sc. Dari BRIN, tim terdiri atas Prof. Taslim Arifin, Dr. (Cand.) Yulius, dan Dr. Aprizon Putra. IPB University diwakili mahasiswa Upi Khotijah, sedangkan pihak dunia usaha melibatkan PT Internusa Bahagia melalui Sandy dan Dedi Sababalat.





Kaji Kapasitas Wisata Selancar di Pulau Siniai





Penelitian ini diharapkan menghasilkan data ilmiah yang dapat digunakan sebagai dasar pengambilan keputusan dalam pengelolaan wisata bahari. Aspek yang dikaji mencakup kapasitas kunjungan peselancar, kondisi ekosistem pesisir dan laut, serta faktor keselamatan dan kenyamanan wisatawan.





Kajian tersebut secara khusus menyasar Pulau Siniai, kawasan Kepulauan Pagai Utara, Kabupaten Kepulauan Mentawai, Sumatera Barat. Wilayah ini memiliki daya tarik ombak yang telah dikenal di kalangan peselancar mancanegara.





Penggabungan keahlian perguruan tinggi, kapasitas lembaga riset, dan pengalaman pelaku usaha menjadi bagian penting dari inisiatif tersebut. Melalui kerja sama ini, pengembangan wisata selancar diharapkan tidak hanya berorientasi pada peningkatan kunjungan, tetapi juga memperhitungkan kemampuan lingkungan dalam menopang aktivitas pariwisata.





Sebab, peningkatan jumlah wisatawan di pulau-pulau kecil tanpa pengelolaan yang memadai berpotensi memberikan tekanan terhadap ekosistem pesisir dan laut. Kondisi tersebut juga dapat memengaruhi keselamatan dan kenyamanan pengunjung serta hubungan sosial antara wisatawan dan masyarakat lokal.


Halaman:

Tags

Terkini