Viral Cucu Krakatau, Peneliti Ungkap Fakta Daratan Baru di Selat Sunda

Photo Author
Administrator, Sumbardaily.com
- Jumat, 25 September 2026 | 08:04 WIB
 Kemunculan daratan baru di perairan sekitar Gunung Anak Krakatau menjadi perhatian setelah beredar dan disebut sebagai
Kemunculan daratan baru di perairan sekitar Gunung Anak Krakatau menjadi perhatian setelah beredar dan disebut sebagai


Sumbardaily.com - Kemunculan daratan baru di perairan sekitar Gunung Anak Krakatau menjadi perhatian setelah beredar dan disebut sebagai "cucu Krakatau". Istilah tersebut memunculkan pertanyaan di tengah masyarakat mengenai apakah daratan yang terlihat di kawasan Selat Sunda itu benar-benar merupakan gunung api baru.





Penjelasan mengenai fenomena tersebut disampaikan Dr. Daryono, anggota aktif Ikatan Ahli Kebencanaan Indonesia (IABI) sekaligus edukator mitigasi bencana. Melalui unggahan Instagram yang dikutip Jumat (24/9/2026), Daryono menjelaskan bahwa daratan yang muncul di antara Gunung Anak Krakatau dan Pulau Sertung bukan gunung api independen.





Menurut penjelasannya, daratan tersebut terbentuk dari material vulkanik yang berasal dari aktivitas Gunung Anak Krakatau. Material itu antara lain abu, batuan, dan lava hasil erupsi yang kemudian terakumulasi di kawasan perairan.





Proses pembentukannya tidak berlangsung secara tiba-tiba. Material hasil erupsi terus menumpuk secara bertahap seiring meningkatnya aktivitas Gunung Anak Krakatau. Ketika akumulasi material tersebut semakin tinggi, sebagian endapan akhirnya dapat muncul hingga ke permukaan laut.





Dengan demikian, kemunculan daratan tersebut tidak serta-merta menunjukkan adanya gunung api baru yang berdiri sendiri. Fenomena itu lebih berkaitan dengan proses penumpukan material vulkanik di kawasan perairan sekitar Gunung Anak Krakatau.





Daryono menjelaskan lokasi terbentuknya daratan baru juga memiliki kondisi yang mendukung terjadinya penumpukan material. Kawasan tersebut berada di antara Gunung Anak Krakatau dan Pulau Sertung, tepatnya pada bagian dasar laut yang berkaitan dengan kaldera purba sisa letusan Krakatau pada 1883.





Kondisi dasar laut yang relatif dangkal membuat material hasil erupsi lebih mudah menumpuk secara vertikal. Material yang terus masuk ke kawasan tersebut memiliki peluang lebih besar untuk membentuk endapan hingga akhirnya menyembul ke atas permukaan air.


Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizinĀ redaksi.
Halaman:

Editor: Administrator

Tags

Terkini

X