Menurutnya, berkurangnya jumlah unit Buayan Kaliang disebabkan oleh keterbatasan lahan yang semakin sempit. Untuk tetap mempertahankan usaha, sebagian unit lainnya disebar ke beberapa lokasi agar tetap dapat dimanfaatkan.
Untuk menikmati sensasi Buayan Kaliang, pengunjung hanya perlu membayar Rp5.000 per orang. Setiap kotak biasanya diisi empat hingga enam penumpang.
Setelah penuh, wahana akan diputar oleh enam orang tenaga manusia hingga mencapai kecepatan maksimal sebelum dilepaskan.
Mak Inun berharap pemerintah daerah dapat memperhatikan keberlangsungan permainan tradisional ini, terutama terkait kondisi lokasi.
Ia meminta agar area tempat Buayan Kaliang tidak dilapisi semen, sehingga memudahkan pemasangan tonggak kayu sebagai penopang wahana.
“Kalau bisa lokasi ini jangan dicor semen, biarlah tetap tanah supaya kami mudah memasang tonggak kayu,” katanya.
Sementara itu, salah seorang pengunjung asal Sei Geringging, Rini, mengaku masih menikmati sensasi Buayan Kaliang hingga saat ini. Ia menyebut permainan tersebut mampu memberikan tantangan yang memacu adrenalin.
“Saya masih suka naik Buayan Kaliang karena menantang, apalagi saat di puncaknya. Sekarang saya bisa ajak suami dan anak untuk merasakannya juga,” ungkapnya.