Sumbardaily.com – Hampir tiga dekade setelah mengangkat trofi Piala Dunia FIFA 1998 bersama Prancis, Christian Karembeu masih menyimpan kenangan yang tidak pernah pudar. Bukan hanya soal keberhasilan Les Bleus meraih gelar juara dunia untuk pertama kalinya, tetapi juga momen ketika ia membawa sekitar 50 anggota keluarganya dari New Caledonia ke Prancis agar bisa merasakan langsung atmosfer pesta sepak bola terbesar di dunia. Menjelang Piala Dunia FIFA 2026, Karembeu kini menaruh keyakinan besar kepada Didier Deschamps untuk kembali membawa Prancis mengukir sejarah.
Dalam wawancara eksklusif bersama FIFA, mantan gelandang yang mengoleksi 53 penampilan bersama tim nasional Prancis itu membagikan berbagai kisah penting dalam perjalanan kariernya. Mulai dari kegagalan Les Bleus lolos ke Piala Dunia Amerika Serikat 1994, momen kebangkitan yang berujung gelar Piala Dunia 1998, hingga harapannya terhadap generasi Prancis saat ini yang dipimpin Didier Deschamps.
Bagi Karembeu, kegagalan lolos ke putaran final Piala Dunia 1994 menjadi salah satu pengalaman paling menyakitkan sepanjang karier internasionalnya. Saat itu, dirinya tidak dapat tampil pada dua pertandingan terakhir babak kualifikasi karena menjalani hukuman skorsing dari Federasi Sepak Bola Prancis setelah insiden pada final Coupe de France 1992/93.
Akibat hukuman tersebut, ia hanya bisa mengikuti perjuangan rekan-rekannya dari kejauhan sambil berharap Prancis mampu memastikan tiket menuju Amerika Serikat.
"Sulit untuk menerimanya. Saya bermain di pertandingan kualifikasi, kecuali dua laga terakhir karena saya mendapat skorsing dari Federasi Sepak Bola Prancis. Saya harus menyaksikannya dari jauh sambil berharap bisa kembali bergabung dengan tim setelah mereka memastikan lolos ke turnamen di Amerika Serikat," kata Christian Karembeu, dilansir dari FIFA, Minggu (12/7/2026).
Menurut Karembeu, banyak orang selalu mengingat kekalahan 2-1 dari Bulgaria pada pertandingan terakhir sebagai penyebab gagalnya Prancis lolos ke Piala Dunia 1994. Namun, ia menilai kekalahan kandang 3-2 dari Israel juga menjadi pukulan yang sangat besar bagi peluang Les Bleus.
"Kekalahan 2-1 dari Bulgaria di pertandingan terakhir memang yang paling diingat orang, tetapi kekalahan kandang 3-2 dari Israel juga menjadi pukulan besar bagi harapan kami untuk lolos. Itu adalah sebuah bencana. Saya kecewa dengan cara kami bermain dalam dua pertandingan tersebut," ujarnya.