Perubahan strategi juga dilakukan Brasil saat turun minum. Ancelotti menarik Lucas Paqueta yang mengalami cedera dan memasukkan Endrick. Kehadiran pemain muda tersebut membuat ancaman Brasil di sekitar kotak penalti Jepang semakin meningkat.
Bruno Guimaraes menjelaskan bahwa pada babak pertama timnya kesulitan membongkar pertahanan rapat Jepang yang menerapkan formasi 5-4-1.
"Kondisinya sangat padat dan kami tidak punya ruang untuk memainkan permainan kami. Mereka bertahan dengan sangat efektif menggunakan formasi 5-4-1 sehingga sulit bagi kami untuk menembus pertahanan. Pada babak kedua, pelatih meminta kami bermain lebih dominan dan mengirim lebih banyak pemain ke kotak penalti. Dari situlah gol kami tercipta," ujar Bruno Guimaraes.
Selain perubahan taktik, para pemain menilai aspek mental menjadi pembeda terbesar. Mereka mengaku tetap percaya bahwa peluang akan datang selama terus memainkan gaya permainan yang diinginkan pelatih.
Winger Brasil, Rayan, mengatakan Ancelotti terus mengingatkan seluruh pemain agar tidak kehilangan kesabaran.
"Dia meminta kami tetap sabar karena kami adalah tim yang selalu berusaha mengendalikan permainan dan mencetak gol. Kami tahu kami akan membalikkan keadaan dan keluar sebagai pemenang," katanya.
Salah satu keputusan penting Ancelotti dalam pertandingan itu adalah mempertahankan Casemiro di lapangan meski sang gelandang telah menerima kartu kuning sejak menit ke-14.
Dalam situasi seperti itu, banyak pelatih kemungkinan memilih menarik pemain demi menghindari risiko kartu merah, terlebih Jepang beberapa kali mengancam melalui serangan balik. Namun Ancelotti tetap mempercayai gelandang Manchester United tersebut.