budaya

Alek Nagari Mangirai di Tapian: Perayaan Unik Perempuan, Nelayan dan Danau Singkarak

Kamis, 20 November 2025 | 00:33 WIB
Ilustrasi (Foto: Istimewa)



Dalam penyelenggaraannya, masyarakat dilibatkan secara aktif melalui berbagai aktivitas komunal, mulai dari gotong royong mempersiapkan lokasi acara (manggoro), musyawarah adat untuk pemantapan kegiatan (duduak basamo), hingga kegiatan mauntang—tradisi memanen ikan bilih dan pensi untuk kebutuhan komunal jelang festival. Selain itu, warga juga menghidupkan kembali malam bagurau anak mudo sebagai ruang berjumpa dan mempererat hubungan antargenerasi.





Ragam Pengetahuan Lokal: Dari Jala hingga Kuliner Danau





Salah satu nilai penting festival ini adalah penonjolan pengetahuan masyarakat tentang teknik menangkap ikan di danau. Tradisi lokal seperti manjariang (menjaring ikan), mamukek (memukat), marawai, dan manangkok pensi akan menjadi bagian dari narasi utama festival. Teknik-teknik itu bukan hanya cara memperoleh hasil tangkapan, tetapi juga mencerminkan hubungan harmonis antara warga dan ekosistem Danau Singkarak.





Rangkaian kegiatan utama festival mencakup demo masak “101 tungku” yang menampilkan beragam kuliner khas Singkarak, seperti pangek bilih, rendang bilih, dan bilih masiak. Acara ini dirancang untuk memperlihatkan kekayaan gastronomi Nagari Tikalak dan bagaimana bahan pangan lokal diolah menjadi menu berkarakter kuat.





Selain itu, terdapat pula arak-arakan adat (barararak), pertunjukan kesenian warga, pameran hasil pemetaan budaya, serta pasar UMKM yang menampilkan produk lokal. Seluruh kegiatan ini dibangun sebagai ruang perjumpaan budaya, tempat warga merayakan, membagi, dan mewariskan pengetahuan mereka.





Peran Perempuan: Penopang Ekonomi dan Penjaga Pengetahuan





Festival Mangirai di Tapian juga memberi panggung khusus bagi kelompok perempuan, terutama Amak-Amak Toke Bilih Tikalak. Selama ini, kelompok ibu-ibu tersebut punya peran penting dalam menjaga keberlangsungan ekonomi lokal, terutama sebagai penghubung antara nelayan dan pasar. Mereka berperan dalam menyortir, mengolah, hingga mendistribusikan ikan bilih ke berbagai titik penjualan.





Untuk memperkuat kapasitas kelompok perempuan tersebut, sebelumnya telah dilakukan workshop literasi media. Kegiatan ini mendorong ibu-ibu untuk mengarsipkan aktivitas keseharian mereka menggunakan ponsel dan media sosial sebagai metode dokumentasi sederhana. Karya dokumentasi itu akan dipamerkan dalam festival sebagai rekam jejak penting kontribusi perempuan dalam pemajuan budaya dan perekonomian nagari.





Bentuk Dukungan dan Keterlibatan Berbagai Pihak





Direktur Bina SDM, Lembaga dan Pranata Kebudayaan Kementerian Kebudayaan, Irini Dewi Wanti, menjelaskan bahwa fasilitasi terhadap festival ini merupakan bagian dari lanjutan Program Pemajuan Kebudayaan Desa. Program tersebut mengembangkan desa budaya melalui proses pembinaan, penguatan, dan pemanfaatan objek pemajuan kebudayaan.





Alek Nagari ini turut didukung Pemerintah Kabupaten Solok, Komunitas Gubuak Kopi, serta berbagai komunitas budaya di Sumatera Barat. Nagari Tikalak sendiri menjadi salah satu dari 152 desa yang masuk dalam Program Desa Pemajuan Kebudayaan.

Halaman:

Tags

Terkini