“Pada prosesi nanti, kita meminta prosesi ritual dari Maambiak Tanah hingga Tabuik Dibuang Kelaut tetap menjaga kekompakkan dan keaslian tradisi lokal,” ujar Mulyadi.
Selain menjaga keaslian budaya, Pemko Pariaman juga memprioritaskan kesiapan menghadapi lonjakan wisatawan yang diperkirakan kembali meningkat pada pelaksanaan tahun ini.
Penataan area parkir, rekayasa lalu lintas hingga kenyamanan pengunjung di kawasan pantai menjadi perhatian utama pemerintah daerah.
Menurut Mulyadi, Pesona Hoyak Tabuik Piaman tidak hanya menjadi agenda budaya tahunan, tetapi juga diharapkan mampu memberikan dampak ekonomi langsung bagi masyarakat Kota Pariaman.
“Mengingat lonjakan pengunjung setiap tahunnya, penataan parkir, rekayasa lalu lintas, dan kenyamanan pengunjung di area pantai menjadi prioritas utama. Tidak hanya itu, salah satu event yang kita gadangkan ini hendaknya harus menjadi penggerak ekonomi ril bagi masyarakat Kota Pariaman, mulai dari sektor kuliner hingga kerajinan tangan bahkan penginapan,” katanya.
Ia juga meminta Dinas Lingkungan Hidup, Dinas Kesehatan dan Satpol PP memastikan kebersihan lokasi serta keamanan selama seluruh rangkaian kegiatan berlangsung.
Pesona Budaya Hoyak Tabuik Piaman sendiri merupakan warisan budaya yang telah menjadi ikon kebanggaan Kota Pariaman selama lebih dari dua abad.
Pada pelaksanaan tahun 2026, event tersebut akan dikemas lebih atraktif, profesional dan berkelas internasional dengan tema Magnificent West Sumatera “Tradisi yang tak Pernah Mati”.