“Koleksi yang ada di pameran Adaik Suluah Nagari ini merupakan ekspresi budaya yang terwujud dalam artefak, miniatur bangunan, dokumentasi, busana, perhiasan, dan juga karya-karya yang menunjukkan nilai-nilai luhur budaya serta tradisi kehidupan sehari-hari masyarakat Minangkabau. Masyarakat Minangkabau memang memiliki budaya yang kental, terutama hampir di setiap nagari yang biasanya dipimpin oleh seorang datuk,” ujar Fadli, dikutip Minggu (25/1/2026).
Lebih lanjut, Fadli Zon juga menekankan pentingnya peran Museum Nasional Indonesia sebagai tolok ukur pengelolaan museum di Tanah Air. Ia mendorong agar museum-museum di tingkat provinsi, kabupaten, hingga desa dapat mencontoh tata kelola, penyajian pameran, serta penyusunan narasi sejarah yang lebih kontekstual dan menarik bagi publik.
“Kita ingin menjadikan Museum Nasional ini sebagai semacam benchmark bagi museum-museum yang ada di daerah. Museum provinsi, kabupaten-kota, hingga desa jumlahnya cukup banyak. Harapannya, museum-museum provinsi terlebih dahulu bisa berbenah dengan mencontoh Museum Nasional, baik dari sisi storyline, tata pamer, peran edukator, konservator, dan aspek lainnya,” imbuhnya.
Pameran Adaik Suluah Nagari mengusung konsep tematik yang menghadirkan kekayaan budaya Minangkabau melalui khazanah artefak yang beragam. Pengunjung diajak menyelami perjalanan adat dan tradisi Minangkabau melalui miniatur rumah adat, busana dan perhiasan tradisional, naskah-naskah kuno, hingga lukisan seni yang merekam nilai-nilai kehidupan masyarakat nagari.
Fadli Zon berharap pameran Adaik Suluah Nagari mampu menumbuhkan rasa bangga dan kecintaan masyarakat, khususnya generasi muda, terhadap kekayaan budaya Minangkabau. Ia juga berharap pameran ini dapat menjadi pemicu bagi komunitas adat di daerah lain untuk menghadirkan kekayaan budayanya di ruang-ruang museum.
“Mudah-mudahan pameran ini bisa menjadi pemicu bagi komunitas dan adat daerah lain untuk mengadakan pameran di berbagai museum. Dengan begitu, kekayaan budaya yang kita miliki semakin luas dipamerkan dan diapresiasi, terutama oleh generasi muda,” tutupnya. (*)