Dalam rapat tersebut, tim kurator turut memaparkan berbagai rencana pengembangan Pusat Dokumentasi dan Informasi Kebudayaan Minangkabau.
Yusrizal KW menekankan pentingnya membangun kesamaan pemahaman sejak awal agar pengelolaan Pusat Dokumentasi dan Informasi Kebudayaan Minangkabau dapat diarahkan sebagai pusat wisata budaya yang memberikan kontribusi nyata terhadap PAD.
"Pusat Dokumentasi dan Informasi Kebudayaan Minangkabau harus menjadi simpul penting wisata berbasis budaya Minangkabau yang juga berperan sebagai pusat edukasi," tutur Yusrizal.
Senada dengan itu, Tomi Iskandar dan Eko Yanche menambahkan bahwa kekayaan dokumentasi yang dimiliki Pusat Dokumentasi dan Informasi Kebudayaan Minangkabau—berupa arsip, foto, dan catatan sejarah budaya Minangkabau—merupakan kekuatan utama yang harus dimaksimalkan.
Mereka mendorong agar Pusat Dokumentasi dan Informasi Kebudayaan Minangkabau diubah menjadi pusat peradaban Minangkabau yang modern.
"Semua elemen tentang Minangkabau ada di sini. Sayang jika tidak dimanfaatkan maksimal. Pusat Dokumentasi dan Informasi Kebudayaan Minangkabau seharusnya bisa menjadi tujuan utama wisata budaya di Sumatera Barat," ujar Tomi.
Kendati demikian, mereka juga menyoroti berbagai kendala yang dihadapi, mulai dari minimnya fasilitas modern, belum optimalnya penggunaan teknologi seperti Augmented Reality (AR) dan Virtual Reality (VR), hingga lemahnya strategi promosi yang menyebabkan potensi Pusat Dokumentasi dan Informasi Kebudayaan Minangkabau belum tergarap maksimal.
Oleh karena itu, disepakati bahwa diperlukan perencanaan menyeluruh dalam bentuk roadmap jangka panjang serta sinergi lintas sektor guna memastikan keberhasilan revitalisasi ini.