Sumbardaily.com - Banjir Padang kembali mengganggu aktivitas masyarakat setelah hujan dengan intensitas tinggi mengguyur Kota Padang pada 3 Agustus 2026. Dalam waktu beberapa jam, sejumlah ruas jalan tergenang, permukiman terendam, dan beberapa sungai meluap.
Kondisi tersebut menjadi perhatian karena terjadi sekitar delapan bulan setelah bencana galodo melanda. Muncul pertanyaan mengenai penyebab banjir yang kembali berlangsung dalam waktu relatif singkat, termasuk apakah hujan menjadi satu-satunya faktor yang memicu genangan di berbagai wilayah Kota Padang.
Persoalan tersebut dibahas Prof. Ir. Haryani MP, guru besar Dosen Program Studi Perencanaan Wilayah dan Kota Universitas Bung Hatta (UBH), dalam tulisan berjudul "Banjir Padang Berulang, Saatnya Benahi Akar Masalah". Tulisan tersebut dikutip dari laman resmi UBH Senin (10/8/2026).
Menurut Haryani, banjir tidak dapat dilihat sebagai akibat dari satu faktor. Hujan memang menjadi pemicu, tetapi tingkat keparahan banjir sangat dipengaruhi kemampuan suatu wilayah dalam menyerap, menyimpan, dan mengalirkan air.
"Banjir bukanlah akibat satu faktor. Hujan hanyalah pemicu," tulis Haryani dalam kajiannya.
Dengan kondisi tersebut, hujan yang berlangsung dalam durasi relatif singkat tetap dapat menimbulkan banjir apabila kemampuan wilayah dalam mengelola air sudah mengalami penurunan. Karena itu, persoalan banjir Padang dinilai perlu dilihat secara lebih luas, bukan hanya berdasarkan curah hujan ketika bencana terjadi.
Kondisi DAS Jadi Perhatian
Haryani menjelaskan Kota Padang perlu dipandang sebagai satu kesatuan sistem daerah aliran sungai atau DAS. Air yang turun di kawasan hulu akan bergerak menuju kawasan tengah hingga hilir.