Menjelang malam, Galanggang Dance menghadirkan karya tari kontemporer bertajuk “Lingkaran Dalam Gelap”. Keunikan karya ini terletak pada penggunaan cahaya senter di kepala dan tangan penari, menciptakan atmosfer magis sekaligus eksperimental. Sebagai penutup, Indonesia Performance Syndicate (IPS) menampilkan teater “Perempatan Perempuan”. Pertunjukan ini sukses memikat penonton lewat tema yang relevan dan penyajian artistik yang kuat.
Agenda Hari Keempat
PNT 2025 berlanjut pada Rabu (27/8/2025) dengan rangkaian acara yang tak kalah beragam. Agenda pagi dimulai pukul 10.00 WIB dengan pameran seni serta diskusi buku “Mandulang Cinto” karya Hasbunallah Haris, menghadirkan Arif P. Putra dan Alizar Tanjung sebagai pembahas.
Pukul 13.30 WIB, publik akan disuguhi dua agenda bersamaan. Diskusi buku “Cara Kerja Tuhan” karya Maulidan Rahman Siregar akan diulas oleh Ilhamdi Sulaiman dan Yona Primadesi, sementara di area lain, Nona Jewelry memandu pelatihan kreatif “Membuat Mozaik dari Manik”.
Menjelang sore, pukul 16.00 WIB, panggung eksibisi dibuka dengan pertunjukan teater “Retak Logos di Negeri Huruf” dari SMA Negeri 2 Gunung Talang. Sesi ini berlanjut dengan tari “Buai Buai” dari Sanggar Tari Kasang Saiyo, serta pertunjukan “Fatamorgana” oleh Komunitas Seni Punago.
Malam hari diwarnai pemutaran film “Cukup Sudi Untuk Rayu” karya Halvika Padma, dilanjutkan dengan dua karya kontemporer, yaitu “Nata Sukma” dari Tatang R. Macan dan “Sonic Matter” karya Taufik Adam. Dua karya ini diperkirakan memberi pengalaman multisensori yang tak terlupakan.
Ruang Ekspresi dan Kolaborasi
Melalui beragam agenda harian, Pekan Nan Tumpah 2025 membuktikan diri sebagai ruang perayaan seni lintas media, lintas generasi, dan lintas disiplin. Tidak hanya menampilkan karya, acara ini juga menjadi medium interaksi antara seniman dan publik, sekaligus ruang belajar bagi siapa pun yang ingin menyelami dunia seni lebih dalam.
Dengan perpaduan antara seni tradisi, kontemporer, hingga eksperimen, PNT 2025 terus memperlihatkan wajah seni yang inklusif dan terbuka. Gelaran ini sekaligus menegaskan bahwa seni bukan hanya tontonan, melainkan juga ruang perjumpaan, percakapan, dan perayaan atas keberagaman gagasan. (red)