budaya

Pameran Silotigo di Padang Pariaman Soroti Krisis Ekologis Pasca Banjir Bandang

Kamis, 5 Februari 2026 | 18:34 WIB
Ke Rumah Nan Tumpah #10 di Sumbar hadirkan pameran Silotigo, refleksi banjir bandang, serta gelar karya 56 anak Kelana Akhir Pekan di Padang Pariaman. (Foto: KSNT)


Sumbardaily.com, Padang Pariaman – Dua bulan setelah bencana banjir bandang dan galodo melanda 16 kabupaten dan kota di Sumatera Barat (Sumbar), ruang refleksi berbasis seni kembali dihadirkan kepada masyarakat.





Komunitas Seni Nan Tumpah menyelenggarakan program Ke Rumah Nan Tumpah (KRNT) #10 pada 7–14 Februari 2026 di Ruang Temu Nan Tumpah, Korong Kasai, Padang Pariaman. Agenda ini mempertemukan praktik seni, pengalaman ekologis, serta ingatan kolektif warga terhadap bencana yang masih membekas.





Sejak pertama kali digagas pada 2017, KRNT menjadi program rutin yang membuka ruang dialog antara masyarakat dan seniman melalui berbagai medium kreatif. Pada edisi ke-10 ini, kegiatan difokuskan pada pembacaan ulang relasi manusia dengan lingkungan, terutama dalam konteks wilayah yang berulang kali mengalami genangan air.





Sorotan utama kegiatan adalah pameran bertajuk “Rukun Paksa/Berakit-rakit ke Hulu, Tinggal di Genangan”, yang menjadi presentasi tunggal pertama kolektif Silotigo—terdiri dari Imam Teguh Sy, Olimsyaf Putra Asmara, dan Boy Nistil.





Ketiganya bertemu dalam kerja artistik melalui program Kaba Rupa Galanggang Arang dan melanjutkan kolaborasi hingga kini dengan membangun praktik seni bersama di Sumbar.





Kurator pameran, Mahatma Muhammad, menilai tema yang diangkat merupakan respons langsung terhadap kondisi ekologis daerah.





“Tema ini merespon kondisi ekologis di Sumatera Barat. Di mana air yang menggenangi kawasan tak hanya dimaknai sebagai sesuatu yang menghanyutkan material. Banjir juga mengingat sekaligus mencatat dampak alih fungsi lahan, penggundulan hutan, pengerukan, dan tata ruang yang tidak mempertimbangkan kondisi ekologis,” ujarnya, Kamis (5/2/2026).


Halaman:

Tags

Terkini