Hilmar Farid, Direktur Jenderal Kebudayaan Kemendikbudristek, mengapresiasi pendekatan yang diambil oleh para seniman. "Selama ini kita mengenal WTBOS sebagai warisan kolonial yang berpengaruh besar dalam perekonomian masa lalu. Namun, cerita mengenai tambang batubara ini hampir selalu dari perspektif kolonial. Yang seringkali diabaikan adalah cerita dari masyarakat yang dulunya bekerja sebagai buruh di sana," ujarnya.
Farid menambahkan bahwa narasi yang dihadirkan dalam karya-karya instalasi ini berangkat dari riset mendalam tentang perjalanan sejarah. Ia melihat bagaimana penderitaan dan rasa sakit disublimasi menjadi karya kreatif yang kuat secara narasi. "Mudah-mudahan ini menginspirasi seluruh bandara di Indonesia untuk memberi ruang pada seni visual, khususnya karya-karya instalasi. Berharap dengan cara begitu, agenda untuk memajukan kebudayaan bisa berjalan dengan baik," tambahnya.
Pemilihan BIM sebagai lokasi pameran bukan tanpa alasan. Sebagai ruang publik, bandara ini menjadi titik pertemuan berbagai kalangan, mulai dari pelajar, pebisnis, hingga wisatawan dan warga lokal. Data Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan bahwa dari Januari hingga Juli 2024, rata-rata terdapat ratusan ribu penumpang angkutan udara untuk penerbangan domestik dan internasional di BIM. Hal ini membuka peluang besar untuk memperkenalkan karya-karya tentang WTBOS dari seniman Sumatera Barat kepada dunia.
Mahatma menjelaskan alasan di balik pemilihan BIM sebagai ruang pameran non-konvensional. "Tujuannya adalah untuk menjangkau khalayak yang belum terbiasa mengunjungi pameran di galeri seni rupa. Seni bisa merespon berbagai ruang, jadi tidak harus di ruangan khusus pameran," ujarnya.
Pameran ini tidak hanya sebagai bentuk perayaan, tetapi juga sebagai upaya untuk membangun ruang dialog dan refleksi tentang isu-isu penting seperti warisan budaya, kolonialisme, dan keberlanjutan lingkungan. Melalui pendekatan dekolonial dan etnografis, ketiga instalasi menempatkan pengalaman dan ingatan lokal di pusat narasi. Narasinya mengandung kritik terhadap bagaimana warisan kini dirayakan, sementara kenyataan pahit dari eksploitasi dan penindasan masa lalu nyaris terlupakan.
Pengakuan WTBOS sebagai Warisan Dunia oleh UNESCO memang patut dibanggakan, namun pengakuan tersebut tidak serta-merta menghapus jejak kolonial yang ditinggalkannya. Karya-karya instalasi ini menjadi pengingat akan bahaya melupakan penderitaan yang telah membentuk sejarah masyarakat, sekaligus menjadi harapan untuk memperjuangkan masa depan yang lebih baik.
"Secara keseluruhan, pameran ini merupakan platform penting untuk memperdalam dialog tentang warisan budaya dan lingkungan yang berkelanjutan. Harapannya melalui karya ini, pengunjung dapat memahami dan meresapi nilai sejarah, budaya dan identitas. Dengan meningkatnya kesadaran masyarakat, maka rasa kepemilikan untuk menjaga dan merawat WTBOS akan tumbuh," ujar Mahatma.
Pameran "Seri Karya Seni Instalasi untuk Memperingati 5 tahun Penetapan Warisan Tambang Batubara Ombilin Sawahlunto (WTBOS) sebagai Warisan Dunia" ini akan berlangsung hingga Desember 2024. Melalui pameran ini, BIM tidak hanya menjadi gerbang masuk ke Sumatera Barat secara fisik, tetapi juga menjadi pintu untuk menyelami kekayaan sejarah, budaya, dan identitas daerah ini. Para pengunjung diajak untuk merefleksikan makna warisan budaya dalam konteks yang lebih luas dan dinamis, serta peran mereka dalam menjaga dan mengembangkan warisan tersebut untuk generasi mendatang. (red)