budaya

Pameran Seni Instalasi WTBOS di BIM: Menyingkap Narasi Tersembunyi Warisan Tambang Batubara Ombilin

Selasa, 17 September 2024 | 10:20 WIB


Padang, Sumbardaily.com - Bandara Internasional Minangkabau (BIM) kini menjadi panggung baru bagi ekspresi seni kontemporer yang mengangkat tema Warisan Tambang Batubara Ombilin Sawahlunto (WTBOS). Sejak Juni 2024, pengunjung bandara disambut oleh tiga karya instalasi menakjubkan yang menghiasi ruang kedatangan penumpang. Pameran ini tidak hanya menjadi perayaan lima tahun penetapan WTBOS sebagai Warisan Dunia oleh UNESCO, tetapi juga menjadi refleksi mendalam tentang sejarah, identitas, dan masa depan Sumatera BaratMuhammad (Sumbar).





Kurator Galanggang Arang, Mahatma Muhammad, menjelaskan bahwa pameran ini bukan sekadar nostalgia. "Peringatan 5 tahun WTBOS merupakan arena konflik ingatan dan identitas yang terus berkembang. Ketiga instalasi yang dipamerkan menantang narasi dominan soal kolonial dan menawarkan perspektif baru tentang identitas dan masa depan budaya lokal," ujarnya dalam keterangan tertulis yang diterima, Selasa (17/9/2024).





Galanggang Arang sendiri merupakan program unggulan Direktorat Pengembangan dan Pemanfaatan Kebudayaan (PPK), Direktorat Jenderal Kebudayaan, Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi Republik Indonesia. Program ini bertujuan untuk memperkuat ekosistem WTBOS pasca penetapannya sebagai warisan dunia pada 6 Juli 2019.





Karya-karya yang dipamerkan menghadirkan interpretasi unik tentang sejarah dan identitas Sumbar. 'Aset', kreasi Arif Rahman dari komunitas Rumah Ada Seni (RAS), menampilkan visual kereta api legendaris 'mak itam' yang dihiasi gambar pemain tambua tansa dalam kolase paco-paco warna-warni. Instalasi ini mengajak penonton untuk merefleksikan kompleksitas sejarah dan identitas lokal, sekaligus mempertanyakan makna warisan dalam konteks yang lebih luas.





Sementara itu, 'Pohon Hikayat' karya Romi Armon, pendiri Kato Lab Art, menghadirkan pohon setinggi dua meter dengan dahan-dahan yang memuat miniatur terowongan dan rel kereta api. Melalui metafora pohon, Romi mengajak pengunjung untuk menyelami lapisan-lapisan sejarah, mengkritisi dampak kolonialisme, dan menyoroti isu lingkungan akibat eksploitasi tambang.





Karya ketiga, "Manuskrip Emas Hitam", merupakan kolaborasi antara Nasrul Palapa, pemilik Galeri 89, dan Erlangga dari komunitas seni Belanak. Instalasi ini menggabungkan material non-konvensional seperti kulit kayu, besi, dan kain beludru berlapis tinta emas dengan objek tradisional seperti ganto dan balango. "Manuskrip ini menceritakan perjalanan dari penemuan batubara hingga pembangunan infrastruktur oleh Belanda untuk kepentingan eksploitasi. Seluruh pengetahuan itu berasal dari cerita masyarakat lokal," sampainya.





Mahatma menekankan bahwa manuskrip dalam karya ini merujuk pada "naskah-naskah hidup" yang diceritakan masyarakat lokal, mengungkap kisah-kisah perlawanan, ketahanan, dan kreativitas di tengah eksploitasi. "Emas hitam" menjadi metafora batubara sebagai sumber daya yang membawa berkah sekaligus petaka, mencerminkan kompleksitas sejarah pertambangan Ombilin.


Halaman:

Tags

Terkini