Ia juga menyoroti peran media, termasuk influencer yang mempunyai jangkauan luas, dalam menyampaikan edukasi kebencanaan kepada masyarakat. Informasi yang disampaikan perlu membantu masyarakat memahami karakteristik lingkungan serta perubahan kondisi yang terjadi secara berkala.
Pemahaman tersebut dibutuhkan baik saat musim hujan maupun musim kemarau agar masyarakat lebih siap menghadapi potensi bencana. Dalam hal ini, perguruan tinggi dinilai memiliki peran strategis melalui penelitian, kajian akademik, dan identifikasi kebutuhan masyarakat.
Kontribusi kampus dapat dilakukan pada berbagai tahapan penanggulangan bencana, mulai dari prabencana, tanggap darurat, hingga pascabencana. Hasil kajian tersebut dapat menjadi bahan pertimbangan untuk mendukung penanganan dan pemulihan yang sesuai dengan kondisi di lapangan.
Hasil Kajian Akademisi Harus Menjadi Tindakan Nyata
Tim Pakar Tim Pengarah Satgas PRRP Sumatera, Charles Mekardi HAM, menekankan pentingnya memperkuat sinergi pemerintah dan kalangan akademisi. Ia mendorong agar pengetahuan serta hasil penelitian perguruan tinggi tidak berhenti sebagai dokumen atau bahan bacaan.
“Pengetahuan dan hasil kajian perguruan tinggi perlu diterjemahkan menjadi tindakan nyata atau knowledge into action,” ujar Charles.
Penerapan hasil kajian menjadi bagian penting dalam menghubungkan keahlian akademisi dengan kebutuhan masyarakat terdampak. Dengan demikian, penelitian dan rekomendasi yang dihasilkan perguruan tinggi dapat dimanfaatkan dalam pelaksanaan program rehabilitasi dan rekonstruksi.
Sementara itu, Brigjen Andre Julian dari Satgas PRRP menyampaikan bahwa meskipun bencana tidak dapat diprediksi secara pasti, dampaknya dapat diminimalkan melalui mitigasi yang didasarkan pada potensi dan risiko bencana.
“Dampak bencana dapat diminimalkan melalui mitigasi berbasis potensi dan risiko, yang didukung standar operasional prosedur atau SOP yang jelas,” kata Andre.