Sumbardaily.com - Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) menyimpan bahaya yang tidak selalu terlihat dari permukaan. Api yang tampak sudah padam ternyata masih bisa membara di bawah tanah, terutama di kawasan gambut yang mengering. Kondisi tersebut membuat proses pemadaman menjadi lebih sulit dan meningkatkan risiko bagi petugas yang bekerja di lapangan.
Pakar geofisika dan kebencanaan Dr. Daryono, S.Si., M.Si., menyoroti persoalan tersebut melalui unggahan di akun Instagram-nya yang dikutip pada Kamis (22/10/2026). Ia menegaskan bahwa upaya memadamkan kebakaran tidak boleh mengabaikan keselamatan personel. Menurutnya, perlindungan terhadap nyawa petugas harus ditempatkan di atas target penyelesaian operasi.
"TIDAK ADA TARGET PEMADAMAN YG LEBIH BERHARGA DARIPADA KESELAMATAN JIWA. KESELAMATAN PETUGAS PEMADAM KARHUTLA HARUS MENJADI PRIORITAS," tulis Daryono dalam unggahannya.
Daryono dikenal sebagai pakar geofisika, ahli gempa bumi dan tsunami, serta mantan pejabat di Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG). Ia juga dikenal luas melalui aktivitasnya dalam menyampaikan informasi ilmiah, memberikan edukasi mitigasi bencana, dan menjelaskan berbagai kejadian gempa bumi serta tsunami di Indonesia.
Dalam unggahannya, Daryono mengingatkan bahwa tragedi yang menimpa petugas pemadam karhutla semestinya menjadi momentum untuk memperkuat standar keselamatan operasi di seluruh Indonesia.
"Memadamkan api adalah tugas kemanusiaan, tetapi menyelamatkan nyawa petugas merupakan prioritas yang tidak boleh ditawar," demikian pesan yang disampaikan dalam draf unggahan tersebut.
Tiga faktor yang membuat karhutla sulit dipadamkan
Karhutla dipengaruhi tiga faktor utama yang saling berkaitan, yaitu iklim dan cuaca, aktivitas manusia, serta kerentanan ekosistem, terutama lahan gambut. Kombinasi ketiganya dapat memicu kebakaran sekaligus mempersulit upaya pemadaman.