properti

Survei: Emas dan Properti Dominasi Minat Investasi di Indonesia

Sabtu, 21 Juni 2025 | 12:58 WIB
Ilustrasi Investasi Emas dan Properti (Foto: Shutterstock via RRI)



Kesalahan pertama adalah mengalokasikan seluruh dana ke emas, yang bisa membatasi peluang mendapatkan keuntungan dari instrumen lain yang mungkin lebih menguntungkan. Kedua, mencoba menebak waktu pasar (market timing) alih-alih menerapkan strategi jangka panjang, padahal harga emas cenderung fluktuatif.





Kesalahan lain termasuk mengabaikan biaya penyimpanan dan transaksi, terutama pada emas fisik, serta kurangnya riset terhadap reputasi penjual dan kualitas produk. Langkah-langkah ini, jika diabaikan, bisa berujung pada kerugian atau investasi yang tidak optimal.





Motivasi dan Faktor Pendorong Masyarakat untuk Berinvestasi





Dari sisi motivasi, survei mencatat bahwa sebagian besar responden mulai berinvestasi karena pertimbangan jangka panjang. Sebanyak 85,7 persen menyatakan bahwa investasi dilakukan sebagai bagian dari rencana keuangan masa depan.





Selain itu, 70,1 persen menyebutkan ketidakpastian ekonomi sebagai alasan utama mereka mulai berinvestasi. Keinginan untuk memiliki dana darurat disebut oleh 60,1 persen responden, sedangkan 51,6 persen lainnya termotivasi oleh tujuan finansial tertentu.





Kemudahan dalam penggunaan aplikasi investasi juga menjadi faktor yang cukup berpengaruh, diakui oleh 45,2 persen responden. Aspek-aspek lain seperti menambah portofolio (24,1 persen), pengaruh lingkungan seperti teman dan keluarga (20,3 persen), mengikuti tren (15 persen), hingga alasan hobi (10,5 persen) turut mendorong keputusan berinvestasi.





Tujuan Utama Investasi: Dari Pensiun hingga Pendidikan Anak





Dalam hal tujuan, dana pensiun menempati posisi teratas sebagai alasan utama masyarakat Indonesia berinvestasi, diungkapkan oleh 75,6 persen responden. Ini menunjukkan tingginya kesadaran masyarakat terhadap pentingnya kemandirian finansial di masa tua.





Keinginan mencapai kebebasan finansial menjadi tujuan kedua terbanyak dengan 66,2 persen. Sedangkan kebutuhan pendidikan anak berada di posisi ketiga, disebutkan oleh 65,3 persen responden sebagai alasan mereka memulai investasi.





Adapun tujuan lainnya termasuk membeli properti (37,7 persen), mempersiapkan dana pernikahan anak (23,5 persen), dana darurat (0,5 persen), dan kebutuhan masa depan lainnya (0,2 persen). Angka-angka ini mengindikasikan bahwa sebagian besar masyarakat cenderung memprioritaskan tujuan jangka panjang dalam strategi keuangan mereka.

Halaman:

Tags

Terkini