Ketua KONI Sawahlunto, H. Jhon Reflita, membenarkan beratnya situasi yang dihadapi Juan. Ia mengatakan pihaknya menerima kabar mengenai meninggalnya ayah Juan pada sore sebelum pertandingan.
"Kita kemarin ke sini menerima berita bahwa orang tua dari Juan, bapaknya meninggal jam sore kemarin. Kami berunding, akhirnya tengah malam jam 9.00 jam 8.00 baru kita kasih tahu," kata Jhon, seperti dikutip dari informasi Diskominfo Sawahlunto, Jumat (9/10/2026).
Menurut Jhon, Juan memilih tetap menjalani pertandingan meski tidak dapat mendampingi maupun menghadiri pemakaman ayahnya. Keputusan tersebut diambil demi perjuangannya untuk Sawahlunto.
"Dan Juan alhamdulillah berjuang mengikhlaskan orang tuanya tanpa didampingi atau menghadiri pemakamannya, karena berjuang untuk Sawahlunto. Alhamdulillah dapat medali emas, perjuangannya tidak sia-sia. Mudah-mudahan dibalas oleh Allah Kuasa," lanjutnya.
Ketabahan Juan mendapat perhatian dari Ketua KONI Sawahlunto. Jhon kemudian memberikan bonus secara pribadi kepada atlet muda tersebut sebagai bentuk penghargaan atas perjuangannya.
Jhon juga berkomitmen menanggung biaya sekolah adik Juan. Dukungan itu diberikan agar sang adik memiliki kesempatan untuk mengikuti jejak kakaknya dan menjadi atlet.
Bagi Sawahlunto, medali yang diraih Juan menjadi catatan penting bagi perkembangan olahraga gulat daerah tersebut. Setelah menunggu selama sekitar 20 tahun, cabang olahraga gulat akhirnya kembali mencatat sejarah melalui atlet muda berusia 15 tahun itu.
Namun, bagi Juan, medali tersebut memiliki arti yang lebih personal. Ia tidak sekadar membawa pulang emas dari arena Porprov XVI Sumbar, tetapi juga membawa pesan terakhir sang ayah yang menjadi penyemangatnya sebelum bertanding.