"Sejujurnya, saya belum berbicara dengan Leo. Sedangkan untuk saya, saya akan berbicara dengan presiden [AFA, Claudio Tapia]. Saya punya gambaran kasar tentang apa yang ingin saya lakukan. Saya akan menyelesaikan kontrak dan kemudian kita lihat saja nanti. Sejujurnya, saya merasa perlu waktu untuk berpikir juga karena saya tidak tahu apakah kita akan pernah bisa melakukan sesuatu sebesar ini lagi... sesuatu yang diimpikan semua orang," ungkapnya.
Kalimat tersebut menjadi titik ketika emosi Scaloni mulai sulit dibendung. Suaranya bergetar, matanya berkaca-kaca, hingga beberapa kali harus menghentikan ucapannya.
Ia mengusap mata, memukul meja dengan pelan, lalu mendapat tepuk tangan dari para jurnalis yang memenuhi ruang konferensi pers. Meski berusaha melanjutkan pernyataannya, air mata terus mengalir saat ia mengenang perjalanan luar biasa Argentina dalam beberapa tahun terakhir.
Scaloni mengaku membangun kembali tim nasional hingga mampu kembali tampil di final Piala Dunia bukanlah pekerjaan mudah. Karena itu, ia merasa membutuhkan waktu untuk menenangkan diri sekaligus memikirkan langkah berikutnya.
"Kami berusaha semaksimal mungkin hingga akhir sebagai staf pelatih, dan para pemain pun melakukan hal yang sama. Saya rasa wajar jika saya meluangkan waktu untuk memikirkannya. Tempat ini luar biasa, sungguh luar biasa. Merupakan mimpi untuk berada di sini. Bahkan dalam mimpi terliar saya pun, saya atau kami semua di staf pelatih tidak pernah berpikir akan berada di sini," katanya.
Scaloni kemudian mengakui bahwa mempertahankan dan membangun kembali tim sekuat Argentina merupakan tantangan yang sangat besar.
"Jadi, Anda membutuhkan banyak hal. Anda harus mengatur ulang dan membangun kembali tim seperti ini. Menciptakan kembali sesuatu seperti ini adalah tugas yang sangat besar dan itu menyakitkan. Sangat menyakitkan. Saya minta maaf," ujarnya.