Andre Rosiade menyebut hasil kajian internal menunjukkan Stadion Sikabu belum layak digunakan sebagai markas klub profesional, baik dari sisi infrastruktur maupun aspek administrasi pengelolaan stadion.
“Banyak yang minta kita main di Sikabu, tapi realitasnya agak sulit. Pertama, jembatan menuju Sikabu itu nyaris putus, tidak mungkin tim tamu turun dari bus lalu naik ojek ke stadion. Kedua, stadion itu bermasalah dalam arti butuh perbaikan yang mungkin menghabiskan dana miliaran rupiah, sementara kita butuh efisiensi,” kata Andre, dikutip Rabu (27/5/2026).
Selain akses jalan yang dinilai bermasalah, manajemen Semen Padang FC juga menyoroti status administrasi Stadion Sikabu yang disebut belum diserahterimakan secara resmi dari dinas pekerjaan umum kepada Dinas Pemuda dan Olahraga setempat.
Kondisi tersebut membuat stadion belum dapat dimanfaatkan secara komersial untuk pertandingan profesional, termasuk untuk penjualan tiket pertandingan.
Karena itu, manajemen akhirnya memilih Stadion Benteng sebagai kandang sementara yang dianggap lebih realistis dan efisien dari sisi operasional klub.
Pilihan menggunakan stadion di kawasan Tangerang juga dikaitkan dengan efisiensi biaya transportasi dan logistik tim selama menjalani kompetisi Liga 2.
Manajemen menilai akses mobilitas dari wilayah Jabodetabek jauh lebih mudah mengingat persebaran tim peserta Liga 2 berada di berbagai daerah seperti Aceh, Medan, Pekanbaru, Palembang hingga Pulau Jawa.
Jika tetap bermarkas di Padang, klub diperkirakan harus mengeluarkan biaya perjalanan yang lebih besar untuk penerbangan dan transportasi tim sepanjang musim.