Tidak hanya itu, The Kmers juga menuntut adanya perubahan sikap dan keterbukaan dari manajemen klub. Mereka menegaskan bahwa sepak bola bukan hanya milik pengelola, tetapi juga milik suporter dan masyarakat luas.
“Kami menuntut adanya perubahan sikap dan keterbukaan dari manajemen. Sepak bola bukan hanya milik pengelola, tetapi juga milik supporter dan masyarakat.”
Dalam pernyataan penutup, mereka menegaskan pentingnya menghilangkan sikap arogan dan anti demokrasi dalam pengelolaan klub. Bahkan, mereka menyarankan agar pihak yang tidak mampu menjalankan amanah memberikan ruang kepada pihak lain yang lebih kompeten.
“Arogansi dan sikap anti demokratis harus dihilangkan. Jika tidak mampu menjalankan amanah dengan baik, maka sebaiknya memberi ruang kepada pihak yang lebih kompeten.”
Aksi boikot ini menjadi sinyal kuat ketegangan antara suporter dan manajemen Semen Padang FC. Hingga saat ini, belum ada tanggapan resmi dari pihak manajemen terkait tuntutan yang disampaikan oleh The Kmers. (*)