Sumbardaily.com – Universitas Andalas (Unand) bersama Tim Pengarah Percepatan Rehabilitasi dan Rekonstruksi Pascabencana (PRRP) serta Kementerian Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (Kemenko PMK) RI membahas percepatan pemulihan wilayah terdampak bencana di Sumatera. Sinkronisasi data menjadi salah satu persoalan yang disoroti karena berkaitan dengan ketepatan penyaluran bantuan dan pemulihan ekonomi masyarakat.
Pembahasan tersebut berlangsung dalam audiensi dan diskusi penanggulangan bencana pada Kamis (22/10/2026). Kegiatan ini bertujuan menghimpun pandangan, hasil kajian, serta rekomendasi akademisi dan pakar kebencanaan untuk mendukung percepatan rehabilitasi dan rekonstruksi di Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat (Sumbar).
Deputi Bidang Koordinasi Pemberdayaan Ekonomi Masyarakat dan Pelindungan Pekerja Migran, Leontinus Alpha Edison, menyoroti pentingnya pembenahan persoalan mendasar, terutama sinkronisasi data.
“Sinkronisasi data menjadi salah satu aspek mendasar yang perlu diselesaikan agar penyaluran bantuan dan program pemulihan dapat berjalan tepat sasaran,” ujarnya menyampaikan pandangan dalam diskusi tersebut.
Menurutnya, persoalan data yang belum terselesaikan dengan baik berpotensi menghambat penyaluran bantuan sekaligus memperlambat pemulihan ekonomi masyarakat. Karena itu, proses rehabilitasi dan rekonstruksi perlu diawali dengan pembenahan data serta persoalan mendasar lainnya agar pelaksanaan program lebih efektif.
Rekonstruksi Harus Membangun Ketangguhan Baru
Tim pakar, Prof. Syamsul Maarif, menegaskan pentingnya menerapkan prinsip build back better dalam rekonstruksi pascabencana. Prinsip tersebut mengarahkan pembangunan kembali agar lebih baik dan lebih tangguh dalam menghadapi risiko bencana.
“Rekonstruksi perlu mengacu pada prinsip build back better, yakni membangun kembali dengan lebih baik dan tangguh terhadap risiko bencana,” jelas Syamsul.