Jaya menilai Persiraja sebenarnya memiliki peluang lebih banyak dibandingkan Semen Padang. Namun, efektivitas menjadi pembeda dalam pertandingan tersebut. Semen Padang hanya membutuhkan satu peluang yang berujung gol untuk membawa pulang tiga poin dari Banda Aceh.
“Kami hanya kecolongan di babak kedua. Padahal kami juga punya banyak peluang yang seharusnya bisa diciptakan menjadi gol. Justru peluang kami lebih banyak daripada mereka, tetapi mereka hanya punya satu peluang yang berbuah gol,” kata Jaya.
Memasuki babak kedua, Semen Padang mulai melakukan perubahan dalam permainan. Salah satu keputusan penting terjadi ketika Ari Maring dimasukkan pada menit ke-63.
Pergantian tersebut kemudian memberikan dampak langsung bagi Semen Padang. Hanya berselang delapan menit setelah masuk ke lapangan, Ari Maring mampu mencetak gol melalui sundulan.
Gol yang tercipta pada menit ke-71 itu mengubah kedudukan menjadi 1-0 untuk keunggulan Semen Padang. Persiraja pun harus bekerja lebih keras untuk mengejar ketertinggalan di sisa pertandingan.
Laskar Rencong mencoba meningkatkan tekanan setelah kebobolan. Namun, usaha tersebut tidak menghasilkan gol penyama kedudukan. Sampai peluit akhir berbunyi, skor tetap 0-1 untuk Semen Padang.
Jaya kemudian menyoroti persoalan lain yang dinilai ikut memengaruhi hasil pertandingan. Menurutnya, Persiraja belum mampu mempertahankan kualitas permainan secara konsisten, sedangkan Semen Padang mampu menunjukkan kematangan ketika sudah berada dalam posisi unggul.
“Kami tidak bisa konsisten dalam bermain. Mereka lebih dewasa bermainnya, lebih punya kepercayaan diri. Secara individu mereka lebih percaya diri daripada pemain-pemain kami,” ungkapnya.