"Tidak mudah berada dalam posisi Lautaro. Dia kehilangan tempatnya di tim, Julian masuk dan tampil sangat menentukan. Saya harus berterima kasih kepadanya atas cara dia menyikapi situasi ini."
Scaloni mengakui bahwa keputusan mencadangkan Lautaro bukan keputusan yang sederhana. Apalagi, pemain tersebut datang ke Piala Dunia dengan reputasi sebagai salah satu penyerang paling produktif di Eropa.
"Bagi saya, mencadangkan seorang penyerang nomor 9 yang merupakan top skor Liga Italia bukanlah keputusan yang mudah. Tentu saja dia tidak senang, tetapi dia tetap memiliki tujuan yang sama, menahan emosinya, berlatih dengan intensitas penuh, dan membuat Anda berpikir ulang. Ketika dimainkan, dia selalu menunjukkan bahwa dirinya siap. Bagi saya, itu adalah salah satu hal terbaik," kata Scaloni.
Ucapan sang pelatih kemudian terbukti sepanjang perjalanan Argentina di turnamen. Lautaro beberapa kali masuk sebagai pemain pengganti dan mampu memberikan dampak besar bagi permainan tim.
Ketika menghadapi Mesir, ia masuk dari bangku cadangan dan ikut berperan dalam proses gol penyama kedudukan yang dicetak Lionel Messi. Setelah itu, Lautaro mengirimkan umpan silang yang berhasil disundul Enzo Fernandez menjadi gol kemenangan Argentina dengan skor 3-2.
Kontribusinya kembali terlihat pada babak perempat final saat Argentina menghadapi Swiss. Dalam pertandingan tersebut, Lautaro lagi-lagi dipercaya masuk sebagai pemain pengganti. Kali ini, ia menjadi penentu kemenangan lewat gol yang dicetak pada menit ke-121, memastikan Argentina lolos ke semifinal.
Skenario serupa kembali terulang ketika Argentina menghadapi Inggris. Masuk pada menit ke-81, Lautaro hanya membutuhkan waktu sebelas menit untuk mencetak gol kemenangan yang memastikan Argentina melaju ke final.
Gol ke gawang Inggris menjadi gol ketiganya sepanjang turnamen sekaligus mempertegas statusnya sebagai pemain yang selalu mampu menghadirkan perbedaan meski tidak selalu tampil sejak menit pertama.