Gandeng Rina Nose, Methosa Kritik Budaya Konsumtif Lewat Single Terbaru “Biru Pink”

Photo Author
Administrator, Sumbardaily.com
- Senin, 8 Juni 2026 | 23:24 WIB


Sumbardaily.com – Grup musik Methosa kembali memperkenalkan karya terbaru mereka melalui single berjudul “Biru Pink”. Lagu ini hadir sebagai sebuah karya bernuansa hip-hop yang tidak hanya menawarkan musik yang enerjik, tetapi juga membawa kritik sosial terhadap hubungan manusia modern dengan uang dan status sosial.





Dalam proyek terbaru ini, Methosa tampil dengan formasi yang kini menyisakan tiga personel, yakni Mansen Munthe pada vokal, Raden Agung sebagai pemain synthesizer, dan Dami Mahardiwana pada gitar. Untuk memperkuat karakter lagu, mereka menggandeng Rina Nose sebagai partner kolaborasi yang memberikan warna berbeda dalam “Biru Pink”.





Kolaborasi tersebut menghasilkan sebuah karya yang terasa unik, liar, teatrikal, namun tetap dekat dengan realitas kehidupan masyarakat Indonesia. Di balik kemasan musik yang terdengar ringan dan mudah dinikmati, tersimpan pesan sosial yang cukup tajam mengenai berbagai persoalan yang terjadi di tengah masyarakat.





Melalui lirik yang repetitif, agresif, dan menyerupai chant massa, “Biru Pink” menggambarkan sejumlah fenomena sosial yang kerap dijumpai dalam kehidupan sehari-hari. Mulai dari pendidikan yang dinilai kalah oleh privilege, politik yang bergerak karena modal, hukum yang dapat dibungkam, hingga budaya konsumtif yang terus berkembang.





Tidak hanya itu, lagu tersebut juga menyoroti persoalan utang dan kecenderungan banyak orang untuk selalu terlihat sukses di hadapan publik. Salah satu bagian yang paling menonjol muncul pada kalimat, “Aku segel mulut kamu pakai biru-biru pink”, yang menjadi simbol bagaimana uang kerap dianggap mampu membeli keheningan, mengendalikan keputusan, bahkan memengaruhi arah tindakan manusia.





Meski dibalut dengan musik yang terdengar catchy dan mudah melekat di telinga, “Biru Pink” sejatinya menghadirkan kritik terhadap perilaku manusia modern yang terus mengejar pengakuan sosial. Lagu ini menggambarkan bagaimana seseorang berusaha tampil berhasil di hadapan orang lain, sementara di saat yang sama mereka mungkin sedang menghadapi tekanan finansial maupun persoalan mental yang tidak terlihat.





Menurut narasi yang dibangun dalam lagu tersebut, kemampuan finansial di era modern menjadi salah satu faktor yang menentukan posisi sosial seseorang. Penghargaan terhadap nilai kemanusiaan dianggap semakin tersisih oleh berbagai ukuran yang membedakan masyarakat ke dalam kelompok mampu dan tidak mampu.


Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Halaman:

Editor: Administrator

Tags

Terkini

X