“Kalason ini bukan sekadar bunyi, tapi bagian dari ekspresi budaya jalanan dan kreativitas masyarakat di masa lalu,” kata Harmein.
Ruang Kolaborasi Batik dan Generasi Muda
Selain musik, SIMFES 2025 juga berkolaborasi dengan Komunitas Batik Sumatera Barat melalui platform RUANG LAGAK, ruang pamer karya dan kolaborasi visual. Di sini, para pembatik dari 19 kabupaten dan kota akan menampilkan karya batik khas daerah masing-masing. Inisiatif ini menegaskan bahwa warisan tekstil Nusantara juga menjadi bagian penting dari narasi budaya yang berkelanjutan.
“Kami ingin menunjukkan bahwa warisan budaya tidak berhenti pada musik atau bangunan bersejarah, tetapi juga pada karya kriya yang diwariskan lintas generasi,” ujar Harmein.
Sarjanaria: Menyemai Inspirasi untuk Generasi Baru
Sebagai bagian dari rangkaian kegiatan, SIMFES menggandeng MTN AsahBakat untuk menyelenggarakan program “Sarjanaria: MTN AsahBakat x SIMFES” di Universitas Negeri Padang (UNP) pada 7 November 2025. Program ini menghadirkan sejumlah tokoh inspiratif seperti Yovie Widianto, Rio Jo Werry, Esha Tegar, Dea Anugrah, dan David Tarigan yang akan berbagi wawasan seputar dunia musik dan industri kreatif Indonesia.
Harmein menegaskan, keberlangsungan festival seperti SIMFES tidak lepas dari kolaborasi berbagai pihak, termasuk dukungan swasta dan komunitas.
“Kami sadar kerja seperti ini membutuhkan kolaborasi dalam segenap elemen masyarakat. Kami berterima kasih kepada pihak-pihak yang membantu, terutama MTN yang mendukung kegiatan kami. Semoga dukungan ini membawa dampak bagi anak muda di Sumatera Barat,” ujarnya.
Dengan rangkaian acara yang memadukan musik, pameran budaya, diskusi, dan seni kriya, SIMFES 2025 menegaskan perannya sebagai wadah pelestarian budaya sekaligus ruang kreatif yang hidup di tengah masyarakat. Sawahlunto, kota yang dahulu dikenal sebagai kota tambang batubara, kini terus menunjukkan transformasinya menjadi kota budaya dunia yang dinamis dan berdaya cipta. (*)