Bertahan Sakit, Melepas Sulit: Lagu Paling Emosional dari Dewanda Pratama

Photo Author
Administrator, Sumbardaily.com
- Jumat, 17 Oktober 2025 | 07:28 WIB
Dewanda Pratama merilis single terbaru Bertahan Sakit Melepas, Melepas Sulit. (Foto: Istimewa)
Dewanda Pratama merilis single terbaru Bertahan Sakit Melepas, Melepas Sulit. (Foto: Istimewa)


Sumbardaily.com – Musisi muda Dewanda Pratama kembali mengguncang dunia musik Indonesia dengan perilisan single terbarunya bertajuk “Bertahan Sakit, Melepas Sulit” pada 10 Oktober 2025. Lagu ini menghadirkan ledakan emosi yang nyaris tanpa filter, menggambarkan perjalanan cinta yang bertahan terlalu lama hingga menjadi luka yang sulit sembuh.





Bagi Dewanda, lagu ini bukan sekadar karya musik, melainkan bentuk ekspresi paling jujur dari pergulatan batin. Ia menuturkan, “Lagu ini lahir dari sisa-sisa perjuangan cinta yang tak sehat. Aku menulis bukan untuk menyalahkan, tapi untuk membebaskan. Bertahan Sakit, Melepas Sulit adalah seruan untuk berani melepaskan sebelum rasa itu benar-benar membunuh kita dari dalam.”





Sejak bait pembuka, lagu ini langsung menyeret pendengar ke dalam pusaran perasaan yang dalam. Dengan lirik seperti, “kini ku perlahan lepaskanmu / walau sulit / namun bertahan ku semakin sakit,” Dewanda berhasil memvisualisasikan dilema antara bertahan dan pergi dari hubungan yang tak lagi sehat.





Aransemen musiknya menggabungkan sentuhan pop ballad dengan nuansa orkestra yang melankolis. Suara vokal Dewanda yang berat dan penuh perasaan menjadi pusat gravitasi lagu ini, menyalurkan rasa sakit tanpa harus berteriak. Setiap kata terdengar seperti bekas luka yang baru saja mengering, namun masih terasa perih.





Tak seperti kebanyakan lagu cinta yang mengandalkan metafora manis, “Bertahan Sakit, Melepas Sulit” tampil apa adanya — jujur, tajam, dan menyayat. Liriknya mengungkap kenyataan pahit tentang pengorbanan yang berlebihan dan kehilangan jati diri demi seseorang yang tidak lagi sepadan.





Salah satu potongan lirik yang paling menggema, “Kututupi sifat burukmu itu / semua ku korbankan untukmu,” menggambarkan kejujuran yang menyakitkan namun membebaskan. Lagu ini menampilkan potret kelelahan emosional seseorang yang akhirnya memilih untuk beranjak, bukan karena berhenti mencintai, melainkan karena ingin tetap hidup.





Secara musikal, Dewanda memainkan dinamika emosi dengan cermat. Ada momen ketika musik mengalun lembut, menciptakan keintiman yang sunyi, lalu meledak di bagian reff dengan kekuatan penuh, menggambarkan perjuangan batin antara rasa sakit dan keberanian untuk melepaskan.


Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Halaman:

Editor: Administrator

Tags

Terkini

X