"Sikerei sendiri telah tercatat sebagai Warisan Budaya Tak Benda Indonesia (WBTBI) pada 2019 dengan domain adat istiadat masyarakat, ritus, dan perayaan-perayaan. Maestro karya budayanya adalah Aman Laulau Manai dari Desa Madobag dan Aikup dari Desa Muntei," jelasnya.
Film dokumenter ini bertujuan untuk menyampaikan informasi secara utuh tentang pentingnya sagu bagi masyarakat Mentawai.
"Kami ingin menghadirkan realitas tanpa rekayasa atau manipulasi, memberikan informasi yang akurat dalam upaya mengembalikan kesadaran masyarakat tentang begitu pentingnya sagu, sekaligus sebagai bentuk solusi terhadap masalah yang dihadapi masyarakat Mentawai," tambah Utari.
Perwakilan dari Kemendikbud Ristek Wilayah Sumatera Barat (Sumbar), Femmy Sutan Bandaro mengapresiasi kerja keras tim Komunitas Budaya Laksamana.
"Tidak mudah untuk memproduksi film dokumenter seperti ini. Namun di tangan Ibu Fani dan tim, kita bisa bersama menyaksikan bagaimana saudara kita di Mentawai masih memanfaatkan sagu atau sagaik ini sebagai bahan makan sehari-hari ataupun saat upacara adat," ujarnya.
Sutan Bandaro berharap film ini dapat membuka mata masyarakat luas untuk tetap melestarikan pohon penghasil sagu serta kebudayaan tradisi asli yang berasal dari Mentawai.
Staf Ahli Bidang Pemerintahan Hukum dan Politik, Nofiyanti juga menyampaikan apresiasinya. Ia sangat mengapresiasi peluncuran buku dan film ini.
"Semoga ke depan bisa mengembangkan dan meningkatkan lagi karya-karya luar biasanya," ujarnya.