Ketika melakukan perjalanan menuju kawasan Pasar Ateh, Bukittinggi, ia memperhatikan keberadaan monumen Inyiak Balang di beberapa titik di area tersebut.
Momen itulah yang memicu inspirasi untuk menciptakan songket bermotif belang Harimau Sumatera.
Untuk memperdalam khazanah pengetahuan tentang Harimau Sumatera, dua pekan pasca Idul Fitri 1446 Hijriah, Vonny melakukan pertemuan dengan Andri Mardiansyah dan Adi Prima, dua pendiri Yayasan Jejak Harimau Sumatera di Kota Padang.
"Diskusi dalam pertemuan tersebut sangat komprehensif. Pembahasan meliputi Harimau Sumatera sebagai satwa ekologi, kaitannya dengan budaya, hingga berbagai mitos yang melekat," kata Vonny.
Kolaborasi dengan Yayasan Jejak Harimau Sumatera dalam merumuskan konsep penciptaan Balang Manarangi merupakan langkah strategis untuk mendalami pengetahuan tentang Harimau Sumatera, filosofi di baliknya, serta pentingnya satwa ini bagi ekosistem dan budaya lokal.
Tujuannya tidak hanya menghasilkan karya seni songket yang memukau, tetapi juga meningkatkan kesadaran masyarakat akan keberadaan dan pentingnya Harimau Sumatera sebagai satwa endemik kebanggaan Pulau Sumatera yang kini terancam punah.
"Sentuhan artistik pada desain Balang Manarangi yang dipadukan dengan pengetahuan ilmiah dari Yayasan Jejak Harimau Sumatera menghasilkan karya tenun dengan nilai estetika tinggi sekaligus menyampaikan pesan konservasi yang kuat," papar Vonny.