"Domisili saya di Jakarta, namun passion terhadap dunia desain sudah dimulai sejak usia 21 tahun. Awalnya fokus pada produk tas untuk perempuan, tetapi belakangan ini saya tertarik mengembangkan wastra Minang kontemporer, terutama songket," ungkap perancang yang juga aktif dalam gerakan pemberdayaan komunitas berbasis budaya ini.
Sumatera Barat dengan kekayaan alam dan budayanya yang memukau memiliki tradisi tenun songket yang sangat bernilai tinggi.
Di tengah keberagaman motif yang terinspirasi dari alam dan kehidupan sosial masyarakat, munculnya konsep tenunan yang secara khusus mengangkat keindahan dan keagungan Harimau Sumatera menjadi terobosan yang signifikan.
Balang Manarangi merupakan lebih dari sekadar motif visual, tetapi perwujudan filosofi mendalam tentang kekuatan, keberanian, dan pentingnya posisi Harimau Sumatera sebagai satwa penyeimbang ekosistem hutan.
Tahap perdana kreasi ini diwujudkan dalam bentuk selendang dengan sentuhan garis motif yang mengisyaratkan bentuk misai dan cakar serta sepasang taring harimau.
Elemen desain lainnya mencakup visualisasi jalur di antara kawasan pegunungan yang dilalui harimau, auman yang divisualisasikan dalam bentuk gelombang, serta garis hitam yang merepresentasikan loreng karakteristik pada tubuh harimau.
Melalui tenunan songket Balang Manarangi, pengrajin dan konsumen diharapkan dapat terhubung dengan pemahaman mendalam tentang Harimau Sumatera, sekaligus meningkatkan kesadaran akan pentingnya keberadaan dan pelestarian habitatnya.