Rani datang ke Inggris bersama M Hario Efenur, suaminya tercinta, dengan membawa sebuah replika kincia aia yang mereka buat, lengkap dengan alu-alu-nya (penumbuk) sejumlah 10 buah, di mana pada tiap alu-alu Rani menempatkan sensor yang sensitif menangkap getaran, melalui pemrograman menggunakan coding, getaran itu diubah dengan softwere MIDI pengolah suara untuk menghasilkan komposisi musik, di mana sumber bunyi musiknya diambil dari kumpulan sampling suara-suara soundscape.
Baca Juga:
Portugal vs Ghana jadi Pertandingan Perdana Ronaldo Usai Keluar dari MU
Rani kembali menampilkan performance karyanya yang berjudul Malenong (M)ASO, yang ini telah di-launching pada 22 Juli 2022 di Nagari Lasi, Kabupaten Agam, Sumatera Barat (Sumbar).
“Dalam pengertian bahasa Indonesia, Malenong (M)ASO adalah memutar waktu dan asal. Judul ini saya pilih karena berhubungan dengan konsep karya, yaitu memutar atau menggulirkan teknologi masa lampau sehingga dapat difungsikan lagi ke masa depan”, ungkap Rani Jambak dalam keterangannya.
“Selain itu, ASO atau asal, dimaknai dengan asal muasal Kincia Aia yang digunakan sebagai pengkaryaan musik, adalah produk kecerdasan masyarakat Minangkabau yang telah tercatat dalam sejarah sejak 204 tahun yang lalu”, lanjut Rani Jambak.
Pemajuan Kebudayaan
Melalui karya ini, dengan mengangkat teknologi tradisional kincia aia, menyambungkannya dengan dengan sensor getar, coding, dan teknologi musik digital MIDI, untuk membunyikan kumpulan koleksi suara dan bebunyian khas daerah, yang dikomposisi dalam musik digital ini, menjadi sebuah “olah objek pemajuan kebudayaan”, menarik masa depan (teknologi digital) dan masa lalu (teknologi tradisional) ke masa hari ini, dalam karya komposisi soundscape kreatif.
Inilah benang merah tema besar yang selalu dibawa Rani, di mana ia konsisten untuk mengusung tajuk #FUTUREANCESTOR, sebagai cara Rani untuk menemukan identitas budaya dirinya sebagai wanita keturunan Minangkabau, dan bagaimana keterhubungan kehidupan manusia, leluhur, dan alam melalui suara.